Profil BTKL PPM Palembang

PROFIL BTKL PPM PALEMBANG
DITJEN PP & PL DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
JL. JENDRAL SUDIRMAN NO. 7490 KM. 2,5 PLG
Telp : (0711) 351278, Fax : (0711) 351278
VISI
Mewujudkan lingkgan yg sehat, membbskan penularn peny. berbasis lingkungan & mendukung SUMSEL SEHAT 2008 menuju INDONESIA SEHAT 2010.
MISI
• Melaksanakan pemeriksaan kesehatan lingkungan sehingga menghasilkan data akurat.
• Melakuakan surveilens epidemiologi
• Mengkaji dan mengembangkan teknologi tepatguna dibidang kesehatan lingkungan.
• Melakukan investigasi terhadap kejadian luar biasa penyakit berbasis lingkungan.
• Reaksi cepat dalam melakukan pemantauan dan penanggulangn pencemaran lingkungan.
• Menyelenggarakan pelatihan terakreditasi di bidang teknis kesehatan lingkungan.

Latar Belakang
SK Menkes No 267 th
2004 & No 266 th 2004
 BBTKL PP-PL Palembang
 Eselon IIIa
 Lab Kes Ling, Peny. Mnlr
 Surveilans Epid
 ADKL
 Pengemb. Teknologi & laboratorium
Dasar Hukum
Kep. Men. Kes. No. 267/MenKes/SK/III/2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja UPT di Bidang Teknik Kes. Ling dan Pemberantasan Penyakit Menular
Kep. Men. Kes. No. 266/MenKes/SK/III/2004 tentang Kriteria Klasifikasi UPT di Bidang Teknik Kes. Ling dan pemberantasan Penyakit Menular
Tugas
Melaksanakan :
1. Surveilans Epidemiologi
2. Pendidikan dan Pelatihan
3. Kewaspadaan Dini dan Penanggulangan KLB
4. Pelayanan Laboratorium
5. Pengembangan Teknologi Pemecahan Masalah
Fungsi
1. Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi di Bidang PPM, Kes Ling dan Kes. Matra
2. Pelaksanaan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL)
3. Pelaksanaan Laboratorium Kesehatan Lingkungan dan PPM Rujukan
4. Pelaksanaan Pengembangan Model & Teknologi Tepat Guna
5. Pelaksanaan Uji Kendali Mutu & Kalibrasi
6. Pelaksanaan Penilaian & Respon Cepat, Kewaspadaan Dini & Penanggulangan KLB / Wabah & Bencana
7. Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan di Bidang Teknik Kesehatan Lingkungan dan PPM
8. Pelaksanaan Kajian & Pengembangan Teknologi PPM, Kesling & Kes Matra.
9. Pelaksanaan Ketata Usahaan & Kerumahtanggaan

Regional Wilayah
PROP. SUMATERA SELATAN
PROP. BENGKULU
PROP. BANGKA BELITUNG
Struktur Organisasi

Klasifikasi
Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular : DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Surabaya;
Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan PPM Kelas I : Medan, Palembang, Batam, Banjar baru, Makasar
Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan PPM Kelas II : Menado, Ambon
Tugas Bagian Tata Usaha
• Penyusunan Program
• Pengelolaan Informasi
• Evaluasi dan Laporan
• Urusan Tata Usaha
• Keuangan
• Kepegawaian
• Perlengkapan dan Rumah Tangga
Tugas Bagian Surveilans Epidemiologi
• Perencanaan dan Evaluasi di Bidang Surveilans Epidemiologi
• Advokasi dan Fasilitasi Kesiapsiagaan dan Penanggulangan KLB
• Kajian dan Diseminasi Informasi KesLing, Kes Matra, & PPM
• Jejaring Kerja dan Kemitraan
• Pendidikan dan Pelatihan di Bidang Surveilans dan Epidemiologi
Tugas Bidang Pengembangan Teknologi dan Laboratorium
• Perencanaan & Evaluasi
• Pengembangan & Penapisan Teknologi Lab
• Kemitraan & Jejaring Kerja Kesling, Kes Matra, & PPM
• Pendidikan & Pelatihan di Bidang Pengembangan Teknologi & Lab PPM, Kesling, dan Kes Matra
Tugas Bidang ADKL
• Perencanaan & Evaluasi
• Pelaksanaan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan Fisik, Kimia, serta Biologi
• Pendidikan & pelatihan di bidang PPM, Kesling, dan Kes Matra
Jenis Instalasi
• Instalasi Lab. Kimia Fisika Zat Cair
• Instalasi Lab. Kimia Fisika Gas
• Instalasi Lab. Kimia Fisika Zat Padat
• Instalasi Lab. Biologi & Klinis
• Instalasi Mutu & Kalibrasi
• Instalasi Teknologi Tepat Guna
• Instalasi Peralatan Lap. & Pemeliharaan Sarana
• Instalasi Media & Reagensia
Kelompok Jabatan Fungsional
Melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsional masing – masing
• Epidemiologi
• Entomologi
• Sanitarian
• Pranata Laboratorium
• Arsiparis
Sumber Daya Manusia

PENDIDIKAN
FAKULTAS/JURUSAN JUMLAH
2005 2006 2007 2008
S2 – Kesmas – Kesling
– Epidemiologi – MT
– Adm. Kebijakan Kes – dll 6 orang 6 orang
S1 Dokter 2 2 orang
– Kesmas
– Teknik Kimia
– Biologi
– Manajemen 6 orang 11 orang
D3 Analis Kes, Analis Kimia & Penilik Kes 4 orang 4 orang
SLTA sederajat – SMF
– SMAK
– SMA 2 orang
4 orang
2 Orang 2 orang
4 orang
2 Orang

Melanjutkan S2 – Manajemen Pengelolaan SDA
– Kesehatan lingkungan 2 orang
1 orang 2 orang
1 orang

Melanjutkan S1 Kesmas 1 orang 3 orang
Jumlah – 40 orang

Kondisi Kemampuan Saat ini
1. Melakukan Sistem Kewaspadaan Dini, Respon cepat KLB, Surveilans Berbasis Laboratorium
2. Sebagai Laboratorium Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular
3. Membantu Melakukan Pemecahan Masalah Kesehatan Lingkungan
4. Pengembangan model/prototype teknologi tepat guna di bidang Kesehatan Lingkungan
5. Pendidikan, pelatihan & pengembangan di Bidang ADKL, Laboratorium dan Surveilans Epidemiologi
6. Pengkajian Dampak Kesehatan Lingkungan.
7. Sebagai Buffer Stock à bahan-bahan (obat dan peralatan terkait) program unit utama
Laboratorium
Laboratorium Lingkungan
• Laboratorium Udara
• Laboratorium Kimia
• Laboratorium Biologi
Laboratorium PPM
• Mikrobiologi à bakteri & jamur
Rencana Pengembangan Laboratorium
Pengembangan Laboratorium Rujukan
• Pengembangan Lab. Klinis dengan jangkauan pemeriksaan : DBD, Malaria, TB, Legionella, Leptospirosis, Filariasis, dsb
• Pengembangan Lab Kes Ling ( Kimia, Gas, dan B3 ) untuk parameter yang belum bisa dilakukan
• Pengembangan Pemeriksaan sampel Biomarker, keracunan makanan.
Pengembangan BTKL PPM sebagai Pusat Pelatihan Laboratorium

Comments (6) »

KAJIAN PASIF PT. ATS PALEMBANG TAHUN 2007

KAJIAN PASIF PT. ATS PALEMBANG
TAHUN 2007

Suatu evaluasi tingkat pajanan polutan terhadap air bersih/air minum dilakukan dengan cara mengukur kadar polutan/kontaminan dalam air tersebut. Kadar polutan yang diperoleh dari hasil pemeriksaan kemudian dibandingkan dengan berbagai batas syarat/nilai ambang yang telah ditetapkan misal : WHO guidlines, Kepmenkes 907/2002 dan lain – lain. Asumsi yang dianut dengan cara ini adalah bahwa kadar yang berada diatas ambang akan memberikan risiko lebih besar untuk mengancam kesehatan, sedangkan yang dibawah ambang boleh dikatakan aman. Cara tersebut dikenal dengan istilah “Pemantauan Lingkungan” (Environmental Monitoring).
Walaupun cara pengukuran seperti di atas tetap menetapkan cara yang dapat memberikan petunjuk penting tentang pajanan, namun biasanya masih didapat beberapa kesulitan dan kelemahan dalam interpretasi dan evaluasinya. Hal tersebut disebabkan kadar/kandungan bahan – bahan dalam media/air jarang bersifat konstan/stabil, tetapi bervariasi menurut waktu serta sangat bergantung pada sumber pencemarannya sendiri. Demikian pula juga bergantung pada tingkat konsumsi air (ingestion) dan intake bahan melalui cara lain (inhalation, dermal absorption) ke dalam tubuh.
Kekurangan tersebut di atas akan dapat lebih di antisipasi, diperbaiki dengan cara dilakukannya pemantauan biologik (Biological Monitoring), misalnya dengan cara mengukur kadar Co, Hb dalam darah, kadar Pb, Merkuri, Cd, Chlorine esterase test dan lain – lain yang memerlukan keahlian khusus dibidangnya.
Aspek Kimia Kualitas Air

Konsumsi Air Minum dan Berat Badan
Data global tentang konsumsi air minum perkapita sangatlah terbatas. Pada studi yang dilakukan di Kanada, Belanda, Inggris dan Amerika Serikat, diperoleh gambaran rata – rata pemakaian air minum perkapita perhari kurang dari 2 (dua) liter, namun bervariasi antar individu. Demikian pula konsumsi air sangat bervariasi dan sangat bergantung pada faktor – faktor iklim, aktifitas serta budaya. Pada suhu diatas 250C misalnya terjadi peningkatan yang tajam terhadap intake cairan, untuk memenuhi kebersihan dari penambahan keluarnya keringat.
Dalam pengembangan penyusunan suatu nilai standar (guideline value) untuk bahan kimia berbahaya yang potensial, digunakan angka rata – rata konsumsi air perkapita perhari sebesar 2 (dua) liter bagi seorang dengan berat badan 60 kg, sedangkan untuk anak – anak digunakan 1 (satu) liter perhari dengan berat badan 10 kg dan bayi 0,75 liter dengan berat badan 5 kg.

Jalru Pajanan Melalui Inhalasi dan Absorbsi Kulit
Kontribusi dari pajanan air minum dapat melalui jalur langsung/ingestion minuman/makanan ataupun jalur tidak langsung/inhalasi saat memakai shower dan absorbsi melalui kontak dengan kulit saat mandi.
Pada kebanyakan kejadian, data yang diperoleh tidaklah mencukupi untuk memperkirakan jumlah pajanan bahan – bahan polutan/kontaminan dalam air melalui inhalasi dan absorbsi lewat kulit. Sehingga tidaklah mungkin untuk menggunakan intake dari jalur tersebut dalam menentukan guideline value kualitas kimia air. Pada umumnya dengan pemakaian Total Tolerable Daily Intake (TDI) yang digunakan untuk pajanan air minum sudah mencukupi.
Kajian Risiko Kesehatan
Ada dua sumber informasi dampak kesehatan yang diakibatkan oleh pajanan bahan kimia yang dapat digunakan dalam penentuan guidelines values, yaitu :
a. Studi terhadap populasi (Human Population)
b. Studi toksisitas (toxicity studies) dengan memakai binatang percobaan
Hal yang kedua sering dipakai oleh karena studi terhadap populasi manusia nilai investigasinya sering kali sangat terbatas dikaitkan sedikitnya informasi kuantitatif dari kadar polutan dimana manusia terpajan, ataupun juga dengan terjadinya pajanan simultan dari bahan – bahan polutan lain. Meskipun demikian, pada studi toksisitas dengan binatang percobaan juga bersifat terbatas karena jumlah binatang percobaan relatif kecil/sedikit serta relatif tingginya dosis pajanan bahan polutan yang digunakan. Oleh karena itu diiperlukan ekstrapolasi dari hasil pemakaian dosis rendah yang mana populasi manusia biasanya terpajan.
pH
a. Pengontrolan pH maksudnya untuk mengurangi korosi dan penebalan pada perpipaan
b. pH kurang 7 menyebabkan korosi berat pada pipa
c. Meningkatnya konsentrasi bahan kimia tertentu seperti lead bisa terjadi sebagai hasil korosi jenis pipa tertentu
d. Pada pH lebih dari 8 akan mengurangi efisiensi disenfeksi chlor
e. pH yang baik untuk air minum dan ditetapkan sebagai nilai Guidline adalah antara 6,5 dan 8,5
Iron/Besi
Walaupun besi sangat penting untuk nutrisi manusia, tetapi besi dari air minum tidak dianggap sumber penting. Pada konsentrasi 0,3 mg/l menyebabkan bercak – bercak pada pakaian cucian dan pekerjaan plumbing serta menyebabkan rasa tak menyenangkan dalam minuman botolan. Presipitasi besi memberikan warna coklat kemerahan dalam air. Bertambahnya konsentrasi besi dalam air dari sistem distribusi mungkin disebabkan karena karat pada pipa besi atau terbawanya besi dalam air yang telah mengendap. Konsentrasi besi lebih besar dari 0,1 mg/l akan menyebabkan endapan pada pipa, pada tingkat lebih besar dari 0,3 mg/l menyebabkan meningkatnya biaya pemeliharaan dan protes karena rasa.
Karena besi juga dipergunakan secara meluas dalam pengolahan air maka nilai Guidline ditetapkan 0,3 mg/l.
Manganese
a. Pada tingkat lebih dari 0,15 mg/l menyebabkan bercak pada cucian dan pekerjaan plumbing
b. Konsentrasi lebih tinggi lagi menyebabkan rasa pada minuman botol
c. Bersama besi menyebabkan endapan pada perpipaan
d. Pada konsentrasi 0,05 mg/l juga sudah menyebabkan tempelan pada pipa
e. Nilai Guideline 0,1 mg/l
Lead/Timbal
Anak – anak, bayi dan ibu hamil adalah grup yang paling sensitif pada ekpose lead ini, oleh karena itu penetapan nilai quedline sangat memperhatikan kelompok orang yang rawan ini. Sayangnya informasi dari kelompok ini sangat terbatas, dalam pengamatan pada anak – anak dan ibu hamil menunjukkan kenaikan 4 -5 µg lead per 100 ml darah bisa dihubungkan dengan akibat minum air yang mengandung 100 µg lead perliter.
Ekspose konsentrasi lead sebesar 100 µg/l bisa menyebabkan sejumlah anak yang bermakna kadar darahnya melebihi 30 µg/100 ml dan tingkatan ini adalah sangat tinggi bagi anak – anak. Pada ekspose tingkat atas penetapan FAO/WHO tahun 1972 bahwa tolerable weekly intake orang dewasa 3 mg per orang akan dilampaui walau diet mengandung 230 µg per hari. Sementara itu bila tingkat lead dalam air minum tidak lebih dari 50 µg/l maka 3 mg intake perminggu tak akan dilampaui walau dengan diet mengandung 300 µg per hari lead. Air minum mengandung 50 µg lead perliter akan mengkontribusi antara seperempat dan setengah, untuk weekly intake orang dewasa dan sepertiga untuk anak – anak. Dengan demikian WHO menetapkan nilai Guideline 0,05 mg/l air minum.
Kebutuhan Oksigen Biologis (BOD5)
Zat organic yang terdiri dari unsur karbon, hydrogen dan oksigen dengan unsur tambahan yang lain seperti nitrogen, belerang dan lain – lain yang cenderung menyerap oksigen. Oksigen tersebut dipergunakan untuk menguraikan senyawa organik. Pada akhirnya kadar oksigen dalam air menjadi keruh dan berbau. Nilai BOD5 menunjukkan kandungan bahan organik yang dapat didegradasi, yang dinyatakan dengan jumlah oksigen dibutuhkan untuk proses degradasi. Makin tinggi nilai BOD5 dari suatu air limbah, maka kualitas air limbah tersebut semakin buruk. BOD5 yang tinggi menggambarkan akibat yang ditimbulkan yaitu akan terjadi defisit (berkurangnya) oksigen terlarut, padahal komponen ini dibutuhkan oleh biota perairan seperti nekton (ikan).
Analisis BOD didasarkan atas reaksi oksidasi bahan organik oleh bakteri aerobik. Penguraian bahan organik merupakan proses alamiah, yaitu apabila suatu air dicemari oleh bahan organik, maka bahan organik tersebut akan diuraikan oleh bakteri. Dalam penguraiannya bakteri mampu menghabiskan oksigen terlarut, sehingga akan berdampak pada kematian ikan atau lainnya juga menimbulkan bau. BOD ini akan dipengaruhi oleh suhu dan derajat keasaman (pH).
Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD)
Nilai COD menunjukkan kandungan bahan organic dan anorganik yang dapat terdegradasi, yang dinyatakan dengan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk proses degradasinya. Makin tinggi nilai COD dari air limbah, maka kualitas air limbah tersebut makin buruk. Sama halnya dengan BOD5, COD yang tinggi akan terjadi defisit (berkurangnya) oksigen terlarut, dan selanjutnya mengganggu kehidupan biota perairan. Batas maksimum COD yang diperbolehkan dalam perairan adalah 100 mg/l, namun pada air bersih maksimum COD yang diperbolehkan adalah 10 mg/l.
Nitrit dan Nitrat
Nitrit berada di air karena hasil oksidasi amoniak bebas. Pada air yang tidak tercemar tidak akan didapat kandungan nitrit, akan tetapi di dalam permukaan dapat ditemukan nitrit yang bersumber dari tanah. Nitrit terjadi dari reaksi lanjut setelah amoniak mengalami oksidasi secara biokimia. Senyawa amoniak ini diperoleh dari buangan kotoran hewan, pembusukan nabati dan sisa – sisa pupuk yang bertebaran di tanah. Kandungan nitrat lebih dari 45 mg/l akan mengganggu kesehatan bayi yang dikenal dengan penyakit Bluebabies yaitu terganggunya sifat darah akibat terkena air yang mengandung nitrat.
Kesimpulan
1. Hasil pemeriksaan air baku PT ATS dari bulan Januari s.d. Desember tahun 2007
• Kadar pH air baku PT ATS dari bulan Januari s.d. Desember masih dalam nilai ambang batas
• Kadar besi air baku PT ATS dari bulan Februari s.d. Desember 2007 melebihi nilai ambang batas (>0,3 mg/l)
• Kadar seng air baku PT ATS pada bulan November dan Desember 2007 melebihi nilai ambang batas (>0,5 mg/l)
• Kadar nitrit air baku PT ATS pada bulan Mei, November dan Desember melebihi nilai ambang batas (>0,06 mg/l)
• Kadar BOD5 air baku PT ATS pada bulan Januari, Agustus dan September melebihi nilai ambang batas (>2 mg/l)
• Kadar COD air baku PT ATS pada bulan Januari, Mei, Agustus dan September 2007 melebihi nilai ambang batas (>10 mg/l)
2. Hasil pemeriksaan air WTP 20 PT ATS diperiksa pada bulan Januari, Februari, Mei dan Juni, pada hasil pemeriksaan seluruh parameter yang diperiksa semuanya memenuhi syarat sesuai dengan SK. Gubernur No. 13 Tahun 2002. Hanya pada bulan Februari kadar Pb melebihi nilai ambang batas (0,2497 mg/l > 0,05 mg/l).
3. Hasil pemeriksaan air WTP 50 PT ATS diperiksa pada bulan Januari, Februari, Mei, Juni Tahun 2007, dari hasil pemeriksaan laboratorium diketahui bahwa semua parameternya memenuhi syarat kesehatan. Hanya pada bulan Februari kadar Pb melebihi nilai ambang batas (0,1998 mg/l > 0,05 mg/l)
4. Hasil pemeriksaan air WTP 50 baja PT ATS diperiksa pada bulan Maret, April, Juli, Agustus, September, Oktober, November dan Desember Tahun 2007, dari hasil pemeriksaan laboratorium diketahui bahwa semua parameternya memenuhi syarat kesehatan.
5. Hasil pemeriksaan air WTP 50 Beton PT ATS diperiksa pada bulan Maret, April, Juli, Agustus, September, Oktober, November dan Desember Tahun 2007, dari hasil pemeriksaan laboratorium diketahui bahwa semua parameternya memenuhi syarat kesehatan.

Lampiran Tabel

HASIL PEMERIKSAAN AIR BAKU PT. ATS TAHUN 2007
No. Parameter Kadar Max Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agt Sept Okt Nov Des
1 pH 6 s.d. 9 7.67 6.55 6.788 5.58 6.28 6.183 6.75 7.3 6.963 6.85 8.074 8.55
2 Besi (Fe) 0.3 0.18 2.0838 2.08 0.7482 2.1378 1.4313 1.6817 1.5624 1.0677 1.0758 4.2984 3.3648
3 Mangan (Mn) 0.1 0 0 0.0053 0.0121 0.0121 0.0084 0.0092 0.0048 0.008 0.0021 0.0146 0.0146
4 Seng (Zn) 0.5 0.0016 0 0 0.1598 0.1134 0.438 0.3408 0.2108 0.0976 0.4321 0.6931 0.7103
5 Crom (Cr+6) 0.5 0 0.0264 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 Cadmium (Cd) 0.1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
7 Raksa (Hg) 0.001 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 Timbal (Pb) 0.03 0.0104 0.0101 0.0101 0.0065 0.0057 0.0043
9 Arsen (As) 0.05 0 0.013 0.0142 0.0098 0.0084 0.002 0.0068 0.0052 0.0016 0.0058 0.0196 0.0012
10 Selenium (Se) 0.01 0.0022 0.0012 0.0012 0 0 0
11 Sianida (Cn) 0.02 0 0 0.014 0.011 0.01 0.0012 0.0021 0.0018 0.0016 0.0007 0.0007 0.0007
12 Fluorida (F) 0.5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
13 Khlorida (Cl) 600 16.5 13.5 9 11.2 11.5 13.5 15.6 17.8 3.6 3.8 4.2 11.5
14 Amoniak (NH3) 0.5 0.18 0.18 0.02 0.13 0.11 0.15 0.12 0.07 0.1 0.13 0.18 0.25
15 Nitrat (NO3) 10 0.04 0.03 0.03 0.01 0.03 0.03 0.05 0.04 0.06 0.05 0.06 0.04
16 Nitrit (NO2) 0.06 0.0014 0.0473 0.0391 0.01 0.3182 0.022 0.0032 0.0275 0.0156 0.0235 0.0767 0.2119
17 BOD5 2 5.4 1.33 6.34 1.4 2 1.34 2.35 8.7 6.8 1.89 1.87 1.74
18 COD 10 17 2 9 4 24 4 7 26 20 7 2 2
19 DO 6 3.67 5.44 6.13 3.53 6 4.5 3.48 2.99 2.8 2.55 1.65 4.05

Kadar max berdasarkan : SK Gubernur Sumsel No. 13 Tahun 2002

Lampiran Grafik

Comments (5) »

KAJIAN KUALITAS UDARA AMBIENT SIMPANG EMPAT KOTA PALEMBANG DAN TERMINAL DI KAB/KOTA PROVINSI SUMATERA SELATAN

KAJIAN KUALITAS UDARA AMBIENT SIMPANG EMPAT KOTA PALEMBANG DAN TERMINAL DI KAB/KOTA PROVINSI SUMATERA SELATAN

TAHUN 2007

  1. I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Penurunan kualitas udara di Kota Palembang diduga terjadi karena adanya peningkatan jumlah sumber pencemar seperti semakin banyaknya kendaraan bermotor, aktifitas kegiatan industri, perkantoran, perumahan dan lain sebagainya. Untuk itu, dibutuhkan kajian untuk mengamati dan menggambarkan kondisi kualitas udara sebenarnya. Pada kajian ini dilakukan pengukuran kualitas udara ambient dengan lokasi di beberapa Simpang Empat Kota Palembang dan terminal di kab/kota Provinsi Sumatera Selatan.

1.2 Maksud dan Tujuan

  • Untuk mengetahui kualitas udara di sekitar lokasi Simpang Empat yang ada di Kota Palembang dan terminal di kab/kota Provinsi Sumatera Selatan.

1.3 Manfa’at

  • Sebagai informasi untuk menambah pengetahuan khususnya bagi tenaga kesehatan masyarakat mengenai faktor yang berpengaruh terhadap gangguan saluran pernafasan sehingga dapat melakukan tindakan pencegahan.
  • Menjadi bahan pertimbangan untuk rekomendasi mengenai pengendalian pencemaran udara khususnya di kawasan Simpang Empat dan terminal di beberapa kab/kota Provinsi Sumatera Selatan.

1.4 Ruang Lingkup

Lokasi Kegiatan

Kegiatan ini dilaksanakan di sekitar lokasi Simpang Empat Kota Palembang dan beberapa terminal di kab/kota Provinsi Sumatera Selatan.

Waktu Kegiatan

Dilaksanakan pada bulan Juli – September 2007

  1. II. Hasil Pemantauan dan Pembahasan

Pengambilan sampel kualitas udara dilakukan 8 (delapan) parameter yaitu gas SO2, NOx, CO, TSP, Suhu, Kecepatan Angin, Kelembaban dan Kebisingan. Pengambilan sampel kualitas udara dilakukan dengan metode tidak langsung yaitu basah (Wet Method) melalui penangkapan udara di lapangan dengan bantuan pereaksi kimia. Pereaksi kimia tersebut ditempatkan dalam tabung impinger kemudian udara dialirkan melalui tabung tersebut dengan bantuan pompa udara yang kecepatan alirnya tertentu. Kandungan gas yang akan di analisis akan bereaksi dan terikat dengan pereaksi (absorben) yang ditempatkan pada tabung impinger tersebut selanjutnya di analisis di laboratorium. Hasil pengambilan sampel dan hasil analisis udara di laboratorium tersebut kemudian dibandingkan dengan Baku Mutu Udara Ambient berdasarkan KepMenLH No. 02 Tahun 1998 dan Peraturan Gubernur No. 17 Tahun 2005. Tabel hasil analisa kualitas udara dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

  1. A. Simpang Empat Polda

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Simpang Empat Polda

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

09:40 WIB

13:20 WIB

19:40 WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

29

30

31

2.

Kelembaban

% RH

72

70

70

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

2,4

2,2

2,8

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

2,1

3,6

2,0

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

446

1054

760

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

17700

23900

19400

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

226

370

316

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

247

304

257

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. B. Simpang Empat Fatal

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Simpang Empat Fatal

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

07:48 WIB

12:18 WIB

18:20 WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

28

29

30

2.

Kelembaban

% RH

80

76

77

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

2,1

3,2

1,2

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0

0

0

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

143

253

166

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

9700

11100

10800

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

110

180

141

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

89

122

104

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. C. Simpang Empat Ceritas

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Simpang Empat Ceritas

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

08:11 WIB

12:18 WIB

18:30 WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

28,5

29

31

2.

Kelembaban

% RH

76

72

69

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

1,8

3,0

3,2

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0

0

0

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

215

400

186

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

11900

17200

11500

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

168

296

149

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

134

179

157

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. D. Simpang Empat Jaka Baring

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Simpang Empat Jaka Baring

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

08:10 WIB

13:37 WIB

20:16 WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

28,5

32

32

2.

Kelembaban

% RH

78

68

68

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

0,8

3,4

2,5

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0

0

0

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

189

235

13100

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

4300

12300

13100

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

109

157

158

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

124

169

158

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. E. Terminal Perumnas Kota Palembang

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Perumnas Kota Palembang

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

10:23 WIB

12:02 WIB

20:37 WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

30

31

31

2.

Kelembaban

% RH

70

71

70

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

3,4

2,4

1,8

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0,3

1,4

0,2

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

240

322

86

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

8800

15700

1900

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

150

178

53

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

105

147

64

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. F. Terminal Lemabang Kota Palembang

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Lemabang Kota Palembang

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

07:45 WIB

14:21 WIB

18:47 WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

28

31

31

2.

Kelembaban

% RH

76

70

69

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

21

3,2

1,4

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0,1

0,3

0,1

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

64

102

85

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

3200

4800

2800

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

39

76

66

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

65

129

72

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. G. Terminal Karya Jaya Kota Palembang

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Karya Jaya Kota Palembang

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

09:37WIB

12:40 WIB

19:43 WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

29

31

31

2.

Kelembaban

% RH

76

69

70

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

2,4

3,5

3,2

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0,1

0,6

0

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

209

315

97

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

9900

13800

3200

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

135

210

54

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

93

159

67

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. H. Terminal Alang – alang Lebar Kota Palembang

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Alang – alang Lebar Kota Palembang

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

10:02WIB

12:37 WIB

19:05WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

30

31

31

2.

Kelembaban

% RH

72

69

69

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

3,2

3,7

2,1

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0,1

0,3

0

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

144

267

72

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

7400

9800

4900

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

134

180

34

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

147

168

116

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. I. Terminal Bayangan Banyuasin

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Bayangan Banyuasin

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

08:27WIB

12:40 WIB

18:37WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

29

31

31

2.

Kelembaban

% RH

74

69

72

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

2,2

1,8

3,2

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0

0,2

0

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

197

240

136

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

2800

6800

3900

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

134

151

134

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

128

143

128

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. J. Terminal Pasar Darat Sekayu

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Pasar Darat Sekayu Musi Banyuasin

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

09:01WIB

13:17 WIB

18:45WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

29

29

30

2.

Kelembaban

% RH

70

70

68

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

2,8

1,4

3,2

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0

0,1

0

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

136

345

76

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

8900

10900

4400

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

100

288

50

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

95

147

75

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. K. Terminal Ogan Ilir

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Ogan Ilir

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

09:15WIB

12:15 WIB

20:01WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

30,2

32

31,2

2.

Kelembaban

% RH

71

65

68

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

3,5

2,8

2,2

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0

0

0

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

102

133

111

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

2100

4200

3800

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

69

82

75

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

128

157

87

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. L. Terminal Kayu Agung

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Kayu Agung

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

10:40WIB

14:10 WIB

20:17WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

31,6

32

30

2.

Kelembaban

% RH

65

61

65

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

2,0

3,2

1,5

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0,2

1,3

0

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

112

134

55

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

5100

7300

3100

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

76

82

31

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

163

182

157

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. M. Terminal Prabumulih

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Prabumulih

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

09:00WIB

13:12 WIB

19:48WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

29

31

30

2.

Kelembaban

% RH

68

65

68

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

2,2

2,6

1,5

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0

0,3

0,1

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

451

494

208

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

14100

16200

12100

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

320

380

199

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

114

127

92

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. N. Terminal Regional Muara Enim

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Regional Muara Enim

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

09:17WIB

12:24WIB

21:09WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

29

31

30

2.

Kelembaban

% RH

68

66

68

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

3,5

1,5

2,4

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0,2

0,4

0

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

89

129

67

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

4800

5100

3200

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

68

112

45

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

79

91

56

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. O. Terminal Lembayung Lahat

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Lembayung Lahat

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

08:23WIB

13:08 WIB

20:31WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

27

31

320

2.

Kelembaban

% RH

82

71

13400

3.

Arah Angin

#

180

4.

Kecepatan Angin

m/s

1,2

3,4

134

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0,8

0,8

0,1

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

187

320

124

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

9800

13400

8000

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

115

180

85

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

98

134

58

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. P. Terminal Mendangung Pagar Alam

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Mendangung Pagar Alam 

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

10:00WIB

13:20 WIB

20:25WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

27

29,5

27

2.

Kelembaban

% RH

83

71

86

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

3,0

2,5

4,2

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0,3

0,3

0

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

54

64

51

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

2500

2900

1200

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

38

47

26

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

67

98

24

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. Q. Terminal Pasar Batu Raja

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Pasar Batu Raja  

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

08:23WIB

13:08 WIB

20:31WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

27

31,2

31

2.

Kelembaban

% RH

82

71

69

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

1,2

3,4

2,2

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0,8

0,8

0,1

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

187

320

124

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

9800

13400

8000

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

115

180

85

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

98

134

58

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

  1. R. Terminal Martapura

Tabel Hasil Analisis Kualitas Udara Ambient Terminal Martapura

No

Parameter

Satuan

Jam Pengambilan Sampel

Keterangan

09:00WIB

13:12 WIB

19:48WIB

A. FISIKA Baku Mutu KepMen LH No. 02 Th 1998

H2S : 42 µg/Nm3/30 mnt

Peraturan Gubernur No. 17 Th. 2005

SO2 : 900 µg/Nm3/1 jam

NO2 : 400 µg/Nm3/1 jam

CO : 30000 µg/Nm3/1 jam

TSP : 230 µg/Nm3/24jam

1.

Suhu

0C

29,5

31,5

30

2.

Kelembaban

% RH

71

64

70

3.

Arah Angin

#

4.

Kecepatan Angin

m/s

1,8

2,4

3,2

5.

Kebisingan

dBA

B. KIMIA

1.

Hidrogen Sulfida

µg/Nm3/30 mnt

0,8

2,0

0,2

2.

Sulfur Dioksida

µg/Nm3/1 jam

165

254

95

3.

Karbon Monoksida

µg/Nm3/1 jam

12200

14600

8700

4.

Nitrogen Dioksida

µg/Nm3/1 jam

126

210

72

5.

TSP

µg/Nm3/24 jam

185

191

168

Sumber : Data Primer dari hasil laboratorium BTKL (2007)

Pembahasan Hasil Pemantauan

  1. 1. Kecepatan dan Arah Angin

Umumnya kecepatan angin di sekitar lokasi kegiatan berdasarkan data base Kota Palembang tergolong sedang yaitu berkisar antara 3 hingga 5 knots. Arah angin di wilayah lokasi kegiatan pada bulan Februari sampai dengan Maret bertiup ke arah utara, sedangkan pada bulan April sampai dengan Mei bertiup ke arah Tenggara.

Hasil pengukuran kecepatan angin pada lokasi kegiatan di simpang empat sebagai mana ditunjukkan pada tabel diatas, berkisar antara 0,8 – 3,4 m/s, kondisi ini masih dalam kategori normal dan untuk lokasi terminal berkisar antara 1,4 – 3,7 m/s (kategori normal).

  1. 2. Suhu dan Kelembaban

Suhu tertinggi pada tahun 2006 ini terjadi pada bulan Mei yakni 280C dan terendah pada bulan Januari  26,60C. Sedangkan kelembaban udara pada tahun ini berkisar antara 82 – 84 %. Kelembaban udara tertinggi pada bulan Januari – Maret 2005 yakni 84%, sedangkan kelembaban udara terendah (82%) pada bulan Mei 2006. Suhu udara sangat diperlukan terutama pada saat pengukuran atau pengambilan sampel udara dilakukan, dimana kandungan gas yang ada di udara berbanding terbalik dengan suhu udara, pada saat udara rendah konsentrasi udara gas di udara diperkirakan tinggi (mengambang mendekati permukaan bumi) sebaliknya pada saat suhu udara meningkat polusi gas di udara rendah (gas naik ke atmosfer). Hasil pengukuran suhu pada lokasi Simpang Empat di Kota Palembang di atas berkisar antara 28 – 32 0C, pengukuran dilakukan pada pagi hari, siang hari, sore hari dan cuaca sangat cerah, kondisi ini masih dalam kategori normal.  Sedangkan hasil pengukuran suhu pada lokasi terminal berkisar antara 28 – 31 0C (kategori normal).

  1. 3. Hidrogen Sulfida (H2S)

Kandungan H2S di lokasi kegiatan dihasilkan dari pembakaran pada aktifitas kendaraan bermotor dan aktifitas genset yang digunakan pada tahap pembangunan. Berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap kandungan Hidrogen Sulfida (H2S) dalam udara ambient di sekitar lokasi kegiatan menunjukkan angka 0,0 µg/Nm3/30 menit atau tidak terdeteksi karena nilai kandungan H2S terukur sangat kecil, angka ini menunjukkan bahwa lokasi Simpang Empat yang ada di Kota Palembang belum tercemar oleh kandungan gas H2S. Begitu juga pada lokasi di terminal, kandungan H2S menunjukkan angka 0,1 – 1,4 µg/Nm3/30 menit (terukur sangat kecil dan masih dibawah baku mutu udara ambient).

  1. 4. Sulfur Dioksida (SO2)

Sulfur dioksida (SO2) mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak terbakar di udara. Pembakaran bahan – bahan yang mengandung sulfur seperti batubara dan minyak akan menghasilkan sulfur dioksida, tetapi jumlahnya tidak dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang tersedia. Adanya SO3 dalam bentuk gas hanya mungkin jika konsentrasi uap air sangat rendah. Jika uap air tersedia dalam keadaan cukup seperti biasanya SO3 dan air akan segera bergabung membentuk droplet asam sulfat (H2SO4) dengan reaksi sebagai berikut :

SO3 + H2O                           H2SO4

Oleh karena itu, komponen yang normal terdapat di dalam atmosfer bukan SO3 melainkan H2SO4. pengaruh SO2 terhadap tanaman dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pengaruh konsentrasi dan waktu kontak. Kerusakan tiba – tiba (akut) terjadi bila kontak dengan SO2 pada konsentrasi tinggi dalam waktu sebentar, dengan gejala beberapa bagian daun menjadi kering dan mati dan biasanya warnanya memucat. Kontak dengan SO2 pada konsentrasi rendah dalam jangka waktu lama akan menyebabkan kerusakan kronis yang ditandai dengan menguningnya warna daun karena terhambatnya mekanisme pembentukan klorofil. Kerusakan akut pada tanaman disebabkan kemampuan tanaman untuk mengubah SO2 yang diabsorbsi menjadi H2SO4 kemudian menjadi sulfat. Sulfat yang terbentuk pada daun berkumpul dengan sulfat yang diabsorbsi melalui akar, dan jika akumulasi cukup tinggi maka terjadi gejala kronis yang disertai dengan gugurnya daun.

Pengaruh terhadap manusia dan hewan, SO2 pada konsentrasi yang jauh lebih tinggi dari konsentrasi yang diperlukan adalah iritasi system pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan ada beberapa individu yang sensitive iritasi terjadi pada konsentrasi 1 – 2 ppm. SO2 dianggap polutan yang berbahaya bagi kesehatan manusia terutama terhadap orang tua penderita yang mengalami kronis pada system pernafasan dan kardiovaskuler. Individu dengan gejala tersebut sangat sensitive terhadap kontak dengan SO2 meskipun dengan konsentrasi relatif rendah misalnya 0,2 ppm atau lebih.

Berdasarkan hasil pengukuran dan uji laboratorium terhadap kandungan Sulfur Dioksida (SO2) dalam udara ambient di lokasi Simpang Empat Kota Palembang menunjukkan kisaran angka 143 – 1054 µg/Nm3/1 jam, angka ini menunjukkan bahwa pada Simpang Empat Polda seperti yang ditunjukkan pada tabel diatas berdasarkan Peraturan Gubernur No. 17 Tahun 2005 sudah melebihi baku mutu yang dipersyaratkan hal ini dapat berpengaruh terhadap lingkungan seperti dedaunan berbintik dan menguning, korosif yang berlebihan pada peralatan, atau gangguan pada pernafasan dan iritasi mata. Sedangkan untuk hasil pengukuran di terminal adalah berkisar antara 64 – 315  µg/Nm3/1 jam, angka ini masih berada jauh di bawah baku mutu udara ambient yang dipersyaratkan yaitu 900 µg/Nm3/1 jam.

  1. 5. Nitrogen Dioksida (NO2)

Nitrogen dioksida (NO2) mempunyai warna coklat kemerahan dan berbau tajam. Jumlah NO2 yang terdapat di udara dalam keadaan seimbang dipengaruhi oleh suhu pembakaran kendaraan, dimana pada suhu tinggi akan terdisosiasi kembali menjadi N2 dan O2. Jika suhu campuran tersebut mengalami penurunan secara perlahan – lahan akan memberikan waktu yang cukup bagi NO2 untuk terdisosiasi. Beberapa pengaruh merugikan yang timbul karena polusi NO2 bukan disebabkan oleh oksida tersebut tetapi karena peranannya dalam pembentukan oksidan fotokimia yang merupakan komponen berbahaya didalam asap. Adanya NO2 di atmosfer pada konsentrasi tinggi (> 3,5 ppm) akan menyebabkan terjadinya nekronis atau kerusakan tenunan daun (Stoker dan Seagar, 1972). Kadar NO2 pada konsentrasi lebih besar dari 5 ppm yang terhisap selama 10 menit oleh manusia akan mengakibatkan sedikit susah dalam bernafas.

Berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap kandungan Nitrogen Dioksida (NO2) dalam udara ambient pada lokasi Simpang Empat di Kota Palembang di atas berkisar antara 110 – 370 µg/Nm3/1 jam, angka ini masih berada dibawah baku mutu udara ambient yang dipersyaratkan yaitu 400 µg/Nm3/1 jam. Hal ini berarti tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kandungan NO2 di wilayah sekitar Simpang Empat. Sedangkan untuk hasil pengukuran pada lokasi terminal adalah berkisar antara 34 – 210 µg/Nm3/1 jam (kategori normal).

  1. 6. Karbon Monoksida (CO)

Karbon Monoksida adalah suatu komponen tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa, yang terdapat dalam bentuk gas pada suhu diatas 192 0C. Komponen ini mempunyai berat sebesar 96,5 % dari berat air dan tidak larut di dalam air. Karbon Monoksida yang terdapat di alam terbentuk dari salah satu proses pembakaran tidak sempurna terhadap karbon atau komponen yang mengandung karbon serta reaksi antara karbon dioksida dan komponen yang mengandung karbon pada suhu tinggi yang menyebabkan karbon dioksida terurai menjadi karbon monoksida dan oksigen. Beberapa penelitian menunjukkan pengaruh CO terhadap tanaman biasanya tidak terlihat secara nyata. Pengaruh CO pada manusia pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kematian, sedangkan kontak dengan CO pada konsentrasi yang relatif rendah (100 ppm atau kurang) dapat mengganggu kesehatan. Pengaruh CO pada tubuh terutama disebabkan oleh reaksi antara CO dengan haemoglobin (Hb) di dalam darah.

Kandungan CO di udara terutama berasal dari emisi kendaraan bermotor, dan pembakaran minyak yang tidak sempurna dimana oksigen yang tersedia kurang dari yang dibutuhkan. Berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap kandungan CO dalam udara ambient di lokasi Simpang Empat yang ada di kota Palembang menunjukkan kisaran angka antara 4300 – 23900 µg/Nm3/1 jam, angka ini juga masih berada dibawah baku mutu udara ambient yang dipersyaratkan yaitu 30.000 µg/Nm3/1 jam. Adapun untuk pengukuran pada lokasi terminal adalah kisaran angka 1900 – 15700 µg/Nm3/1 jam (kategori normal).

  1. 7. Debu (TSP)

Kandungan debu di udara ambient pada umumnya berasal dari proses pembakaran bahan bakar yang kurang sempurna dan emisi debu dari lahan terbuka. Dampak yang ditimbulkan terhadap kesehatan manusia adalah berupa gangguan pernafasan fibrosis dan abstraksi paru – paru. Pengaruh terhadap kesehatan manusia tergantung dari kondisi kimia, ukuran partikel, konsentrasi dan lama pemaparannya. Dampak partikulat debu terhadap lingkungan di antaranya dapat mengurangi jarak pandang/penglihatan dan apabila konsentrasinya tinggi dapat menimbulkan gangguan estetika dan tertutupnya permukaan benda, bangunan gedung dan lain – lain. Partikulat debu dengan ukuran 0,2 – 2 mikron merupakan penyaring sinar matahari, sehingga menyebabkan berkurangnya sinar matahari dipermukaan bumi, karena bumi akan kekurangan sinar ultraviolet yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis tumbuh – tumbuhan dan juga sebagai salah satu faktor antirachitis, selain itu sinar ultraviolet dibutuhkan untuk membunuh mikroorganisme patogen di udara.

Berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap kandungan debu (TSP) pada lokasi Simpang Empat di Kota Palembang di atas berkisar antara 89 – 304 µg/Nm3/jam, angka ini berada diatas baku mutu udara ambient yang dipersyaratkan yaitu 88 – 98 µg/Nm3/24 jam. Angka ini menunjukkan bahwa pada Simpang Empat Polda seperti yang ditunjukkan pada tabel diatas berdasarkan Peraturan Gubernur No. 17 Tahun 2005 sudah melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Nilai kandungan debu (TSP) terukur akibat dari aktifitas transportasi dan kegiatan pembangunan proyek play over serta debu terbang karena lokasi kegiatan merupakan hamparan tanah. Sedangkan untuk lokasi terminal, hasil pengukurannya adalah kisaran angka 64 – 168  µg/Nm3/24 jam, angka ini masih berada di bawah baku mutu udara ambient yang dipersyaratkan 230   µg/Nm3/24 jam.

  1. III. Penutup

Pada umumnya dalam berbagai kasus pencemaran udara, dalam hal ini pencemaran udara yang diakibatkan oleh gas buang emisi kendaraan bermotor, dibutuhkan upaya segera dalam penanggulangannya. Dalam suatu studi oleh JICA, menunjukkan bahwa diantara berbagai bahan pencemaran yang dipantau, jenis pencemar udara yang sering dilampaui kriteria mutu udara, adalah partikulat dan hidrokarbon (non-metan). Walaupun hasil penelitian mengenai dampak pencemaran kedua parameter tersebut masih belum konsisten, mengingat dampak yang telah disebutkan diatas, maka pencemaran partikulat dan hidrokarbon yang dicurigai dapat bersifat karsinogenik dan mutagenik, perlu diwaspadai.

Didalam pengendalian pencemaran udara, seringkali teknologi yang tepat belum tentu menjamin dapat segera terlaksananya upaya tersebut. Pertimbangan segi ekonomi sering menjadi kendala utama. Di lain pihak kadang pemecahan tidak segera dapat ditemukan karena kurangnya fasilitas teknologi yang ada. Dalam keadaan seperti ini maka upaya pengendalian pencemaran terhadap lingkungan dapat dilakukan secara administratif dengan menerapkan peraturan perundangan yang telah ada secara ketat.

Daftar Pustaka

Sastrawijaya, Tresna A, (2000), Pencemaran Lingkungan, Cetakan Pertama, Rieneka Cipta, Jakarta

Kusno Putranto, H, Kesehatan Lingkungan, FKM UI, Depok, 2000

Anonim, Peraturan Pemerintah RI No: 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, BAPEDAL, 2001

Wisnu Arya Wardhana (2003),Dampak Pencemaran Lingkungan, Jakarta

Haryanto, Budi (2006), Dampak Kesehatan Pencemaran Udara, http://www.bappenas.go.id/index.php?file = index-php.pdf [26 April 2007]

————, (Depkes RI, 2007), 2 – 5 % Penduduk Indonesia Menderita Asma, http://www.Depkes.go.id/index.php?option = news & task = view article & sid [01 Mei 2007]

Fardiaz S, Polusi Air dan Udara, Penerbit Kanisius Yogyakarta, 1992

Ariawan, Iwan (1998). Besar dan Metode sampel pada Penelitian Kesehatan. Jurusan Biostatistik dan kependudukan FKM UI

Ammary, Fauzi (2005). Transport and Traffic, http://udarakota_bappenas.go.id/detail/makalah.php?file= UAQ-i_Transport.pdf [18 April 2007]

Depkes, (1992). Pengendalian Pencemaran Udara di Pemukiman

Depkes RI (1994) Petunjuk Teknis Pengukuran Kualitas Udara dan Limbah Cair, Jakarta, Dirjen P2M & PLP

United States Environmental Protection Agency. 2006. PM10 Fact Sheet. Diakses tanggal 5 Juni 2007 dari http://www.epa.gov.

Comments (1) »

GAMBARAN KUALITAS UDARA AMBIENT DI LINGKUNGAN PEMUKIMAN SEKITAR PT. PUSRI PALEMBANG TAHUN 2007

GAMBARAN KUALITAS UDARA AMBIENT DI LINGKUNGAN

PEMUKIMAN SEKITAR PT. PUSRI PALEMBANG

TAHUN 2007

  1. I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Perkembangan Kota Palembang tentunya akan memberikan dampak positif maupun negatif bagi kesehatan lingkungan penduduk di daerah perkotaan. Meningkatnya kendaraan bermotor dan bertambahnya industri, urbanisasi turut menimbulkan dampak negatif seperti adanya pencemaran udara.

Hal itu akan memberikan dampak terhadap kesehatan manusia, dimana pengaruh udara dapat terjadi secara langsung, karena proses pernapasan dan kontak anggota tubuh dengan udara. Pengaruh udara terhadap kesehatan sangat ditentukan dengan komposisi kimia, biologis, maupun fisik udara.

Dalam keadaan normal, udara terdiri dari oksigen dan nitrogen. Tetapi, aktifitas manusia dapat merubah komposisi kimiawi udara dengan meningkatnya konsentrasi  zat –  zat kimia tertentu di udara.

Banyak sekali kegiatan – kegiatan manusia yang dapat menjadi sumber bagi pencemaran udara. Salah satu contoh di Kota Palembang adalah industri pupuk PT. PUSRI Palembang yang menghasilkan pupuk urea.

Manusia selama hidupnya akan membutuhkan udara. Kualitas udara ambient akan berpengaruh terhadap kesehatan manusia, untuk itu perlu dilakukan pengendalian dalam mengurangi penemaran udara.

Kegiatan industri PT. PUSRI Palembang sangat potensial sekali dapat meningkatkan secara langsung konsenstrasi gas amoniak di udara sehingga dapat menimbulkan dampak kesehatan bagi penduduk di sekitar industri tersebut.

Mengingat adanya potensi terjadinya pencemaran udara ambient di pemukiman penduduk yang bersumber dari aktifitas industri PT. PUSRI Palembang maka Peneliti tertarik untuk mengetahui seberapa besar potensi risiko terjadinya pencemaran udara ambient di pemukiman penduduk sekitar industri PT. PUSRI Palembang tahun 2007.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana kualitas udara ambient di pemukiman sekitar PT. PUSRI Palembang pada tahun 2007 ?.

1.3 Batasan Masalah

Penelitian ini dilakukan pada pemukiman penduduk di sekitar industri PT. PUSRI Palembang dalam wilayah kerja Puskesmas Sabokingking Palembang.

Penelitian ini merupakan analisis data primer yaitu data hasil uji laboratorium mengenai kualitas udara ambient di pemukiman penduduk sekitar industri PT. PUSRI Palembang sebagai pabrik pupuk urea tahun 2007.

Data di analisis dengan memakai statistik dengan menggunakan perangkat komputer dengan memakai jenis studi ekologi time trend.

Keterbatasan penelitian yang ada yaitu tidak dilakukannya penelitian terhadap faktor – faktor lain yang dapat berhubungan dengan kejadian penemaran udara di pemukiman penduduk sekitar industri PT. PUSRI karena tidak tersedianya data yang memadai. Mungkin hal tersebut dapat diteruskan oleh peneliti lain.

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui kondisi kualitas udara ambient di pemukiman penduduk sekitar industri PT. PUSRI Palembang tahun 2007.

1.4.2 Tujuan Khusus

Untuk mengetahui konsentrasi gas amoniak (NH3), nitrogen diokasida (NO2), sulfur dioksida (SO2) dan Total Solid Partikel (TSP) di pemukiman penduduk sekitar industri PT. PUSRI Palembang.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi dalam perencanaan pengelolaan program penyehatan lingkungan.

  1. II. Metodologi Penelitian

2.1 Desain Studi

Penelitian ini merupakan penelitian obserasional tidak lengkap dengan rancangan time ecologcial study.

2.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di pemukiman penduduk sekitar PT. PUSRI Palembang yang merupakan wilayah kerja BTKL PPM Kelas I Palembang, pada bulan Juli dan Agustus Tahun 2007.

2.3 Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah pemukiman penduduk sekitar industri PT. PUSRI Palembang dalam wilayah kerja Puskesmas Sabokingking Palembang.

Periode pengambilan sampel dilakukan sebanyak dua (2) kali yaitu pada bulan Juli dan Agustus Tahun 2007. Pengambilan sampel udara ambient dilakukan sebanyak tiga (3) kali dengan pertimbangan waktu yaitu mewakili waktu pagi, sore dan malam. Titik pengambilan sampel dilakukan pada dua (2) tempat di pemukiman penduduk dengan radius ± 1 kilometer dari cerobong pabrik PT. PUSRI Palembang. Karena jumlah populasi dapat dianalisa semua, jadi pada penelitian ini tidak dilakukan pengambilan sampel penelitian.

2.4 Analisa Data

Penganalisaan data yang dapat dilakukan dengan menampilkan visualisasi trend berdasarkan waktu dari hasil pemeriksaan kualitas udara ambient pada pemukiman penduduk sekitar industri pabrik PT. PUSRI Palembang. Hasil analisa ditampilkan dalam bentuk narasi, tabel dan grafik.

  1. III. Hasil dan Pembahasan

Menjawab pertanyaan penelitian dan tujuan penelitian maka hasil akan disajikan secara deskrifptif. Di bawah ini adalah tabel mengenai data sampel udara ambient di pemukiman penduduk sekitar PT. PUSRI Palembang Tahun 2007.

Tabel 1. Data Sampel Udara Ambient di Pemukiman Penduduk Sekitar PT. PUSRI Palembang Tahun 2007

No

Lokasi

Alamat

Titik Ordinat

1.

Titik 1 Lapangan depan rumah no. 88 Rt 01/01 Kel. Sungai Buah Kecamatan IT II S 020 58’ 24.6”

E 1040 47’ 31.8”

2.

Titik 2 Lapangan depan rumah no. 231 Rt 13/02 Kel. Sungai Buah Kecamatan IT II S 020 58’ 04.0”

E 1040 47’ 43.5”

Sumber : Data Primer

Parameter udara ambient yang diperiksa yaitu parameter meteorologi seperti suhu, kelembaban dan kecepatan angin. Sedangkan parameter kimia yang diperiksa adalah amoniak, sulfur dioksida, karbonmonoksida, nitrogen dioksida dan total solid partikel.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel gas dan partikel pada udara ambient di pemukiman penduduk sekitar PT. PUSRI Palembang Tahun 2007 selama dua kali periode pengambilan sampel pada dua titik sampling dapat dilihat pada lampiran 1 dan 2 (terlampir).

Sampel udara ambient termasuk dalam kategori Memenuhi Syarat (MS) menurut PerGub Sumsel No. 17 Tahun 2005 mengenai baku mutu udara ambient dan KepMenLH No. 02 Tahun 1988.

Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Sampel Udara Ambient di Pemukiman Penduduk Sekitar PT. PUSRI Palembang

Tahun 2007 Periode I

Tanggal/Lokasi Sampling

Waktu Sampling

Hasil

23 Juli 2007 Titik 1 (Depan Rumah No. 88 Rt 01) Pagi

Sore

Malam

MS

MS

MS

Titik 2 (Depan Rumah No. 231 Rt 13) Pagi

Sore

Malam

MS

MS

MS

24 Juli 2007 Titik 1 (Depan Rumah No. 88 Rt 01) Pagi

Sore

Malam

MS

MS

MS

Titik 2 (Depan Rumah No. 231 Rt 13) Pagi

Sore

Malam

MS

MS

MS

25 Juli 2007 Titik 1 (Depan Rumah No. 88 Rt 01) Pagi

Sore

Malam

MS

MS

MS

Titik 2 (Depan Rumah No. 231 Rt 13) Pagi

Sore

Malam

MS

MS

MS

Sumber : Data Primer

Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Sampel Udara Ambient di Pemukiman Penduduk Sekitar PT. PUSRI Palembang

Tahun 2007 Periode II

Tanggal/Lokasi Sampling

Waktu Sampling

Hasil

21 Agustus

2007

Titik 1 (Depan Rumah No. 88 Rt 01) Pagi

Sore

Malam

MS

MS

MS

Titik 2 (Depan Rumah No. 231 Rt 13) Pagi

Sore

Malam

MS

MS

MS

24 Agustus

2007

Titik 1 (Depan Rumah No. 88 Rt 01) Pagi

Sore

Malam

MS

MS

MS

Titik 2 (Depan Rumah No. 231 Rt 13) Pagi

Sore

Malam

MS

MS

MS

25 Agustus

2007

Titik 1 (Depan Rumah No. 88 Rt 01) Pagi

Sore

Malam

MS

MS

MS

Titik 2 (Depan Rumah No. 231 Rt 13) Pagi

Sore

Malam

MS

MS

MS

Sumber : Data Primer

Untuk melihat lebih jelas mengenai visualisasi konsentrasii gas dan partikel pada udara ambient di pemukiman penduduk sekitar PT. PUSRI Palembang Tahun 2007 selama 2 (dua) periode pengambilan sampel pada dua titik pengambilan sampel, dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

  1. a. Suhu

Grafik 4. Gambaran suhu rata – rata di Pemukiman Penduduk Sekitar PT. PUSRI Palembang

Sumber : Data Primer

Bila dilihat dari grafik diatas, pada tanggal 23 – 25 Juli dan 21 – 23 Agustus 2007 terjadi fluktuasi suhu rata – rata per hari dengan suhu terendah sebesar 30,33 0C pada tanggal 21 Agustus 2007 pada titik sampling 1 yaitu depan rumah No. 88 Rt 1 dan tertinggi sebesar 31,67 0C pada tanggal 24 Juli di titik sampling 1, dan 22 – 23 Agustus 2007 pada titik sampling 2.

  1. b. Kelembaban

Grafik 5. Gambaran kelembaban rata – rata di Pemukiman Penduduk Sekitar PT. PUSRI Palembang

Sumber : Data Primer

Bila dilihat dari grafik diatas, terjadi trend penurunan kelembaban rata – rata per hari pada tanggal 23 – 25 Juli ke tanggal 21 – 23 Agustus 2007 baik pada titik sampling 1 maupun titik sampling 2, dengan kelembaban terendah sebesar 64 % RH pada tanggal 22 Agustus 2007 dan tertinggi sebesar 67,33%RH pada tanggal 24 Juli 2007.

  1. c. Kecepatan Angin

Grafik 6. Gambaran kecepatan angin rata – rata di Pemukiman Penduduk Sekitar PT. PUSRI Palembang

Sumber : Data Primer

Terjadi fluktuasi kecepatan angin rata – rata perhari pada tanggal 21 – 23 Agustus 2007 baik pada titik sampling 1 maupun titik sampling 2, dengan kecepatan angin rata – rata terendah sebesar 0,47 m/s pada tanggal 25 Juli 2007 dan tertinggi sebesar 1,07 m/s pada tanggal 21 Agustus 2007.

  1. d. Amoniak

Grafik 7. Gambaran konsentrasi gas amoniak rata – rata per hari di Pemukiman Penduduk Sekitar PT. PUSRI Palembang

Sumber : Data Primer

Terjadi trend peningkatan konsentrasi gas amoniak rata – rata per hari di udara ambient pada dua titik sampling di pemukiman penduduk sekitar PT. PUSRI Palembang pada tanggal 23 – 25 Juli ke tanggal 21 – 23 Agustus 2007 baik pada titik sampling 1 maupun titik sampling 2. Dengan konsentrasi amoniak terendah sebesar 146  µg/Nm3/24 jam pada tanggal 23 Juli 2007 di titik sampling 2 dan tertinggi sebesar 529 µg/Nm3/24 jam pada tanggal 23 Agustus 2007 di titik sampling 1. Terdapat perbedaan konsentrasi amoniak rata – rata per hari antara titik sampling 1 dan titik sampling 2.

  1. e. Sulfur Dioksida

Grafik 8. Gambaran konsentrasi gas sulfur dioksida rata – rata per hari di Pemukiman Penduduk Sekitar PT. PUSRI Palembang

Sumber : Data Primer

Terjadi trend penurunan konsentrasi gas sulfur dioksida rata – rata perhari di udara ambient pada dua titik sampling di pemukiman penduduk sekitar PT. PUSRI Palembang pada tanggal 23 – 25 Juli ke tanggal 21 – 23 Agustus 2007 baik pada titik sampling 1 maupun titik sampling 2. Dengan konsentrasi sulfur dioksida terendah sebesar 52  µg/Nm3/1 jam pada tanggal 23 Agustus 2007 pada titik sampling 2 dan tertinggi sebesar 84,33 µg/Nm3/1 jam pada tanggal 23 Agustus 2007 pada titik sampling 1. Terdapat perbedaan konsentrasi sulfur dioksida rata – rata perhari antara titik sampling 1 dan titik sampling 2.

  1. f. Karbonmonoksida

Grafik 9. Gambaran konsentrasi gas karbon monoksida rata – rata per hari di Pemukiman Penduduk Sekitar

PT. PUSRI Palembang

Sumber : Data Primer

Terjadi trend penurunan konsentrasi gas karbonmonoksida rata – rata perhari di udara ambient pada dua titik sampling di pemukiman penduduk sekitar PT. PUSRI Palembang pada tanggal 23 – 25 Juli ke tanggal 21 – 23 Agustus 2007 baik pada titik sampling 1 maupun titik sampling 2. Dengan konsentrasi karbonmonoksida terendah sebesar 3100  µg/Nm3/1 jam pada tanggal 22 Agustus 2007 pada titik sampling 2 dan tertinggi sebesar 5900 µg/Nm3/1 jam pada tanggal 23 Juli 2007 pada titik sampling 1. Terdapat perbedaan konsentrasi karbonmonoksida rata – rata perhari antara titik sampling 1 dan titik sampling 2.

  1. g. Nitrogen Dioksida

Grafik 10. Gambaran konsentrasi gas nitrogen dioksida rata – rata per hari di Pemukiman Penduduk Sekitar

PT. PUSRI Palembang

Sumber : Data Primer

Terjadi fluktuasi konsentrasi gas nitrogen dioksida rata – rata perhari di udara ambient pada dua titik sampling di pemukiman penduduk sekitar PT. PUSRI Palembang pada tanggal 23 – 25 Juli ke tanggal 21 – 23 Agustus 2007 baik pada titik sampling 1 maupun titik sampling 2. Terjadi penurunan konsentrasi nitrogen dioksida pada tanggal 23 – 25 Juli dan 21 – 23 Agustus 2007 pada titik 1 maupun titik sampling 2. Dengan konsentrasi nitrogen dioksida terendah sebesar 25 µg/Nm3/1 jam pada tanggal 23 Agustus 2007 pada titik sampling 1 dan tertinggi sebesar 53,33 µg/Nm3/1 jam pada tanggal 22 Agustus 2007 pada titik sampling 2. Terdapat perbedaan konsentrasi nitrogen dioksida rata – rata perhari antara titik sampling 1 dan titik sampling 2.

  1. h. Total Solid Partikel (TSP)

Grafik 11. Gambaran konsentrasi total solid partikel rata – rata per hari di Pemukiman Penduduk Sekitar

PT. PUSRI Palembang

Sumber : Data Primer

Terjadi fluktuasi konsentrasi TSP rata – rata perhari di udara ambient pada dua titik sampling di pemukiman penduduk sekitar PT. PUSRI Palembang pada tanggal 23 – 25 Juli ke tanggal 21 – 23 Agustus 2007 baik pada titik sampling 1 maupun titik sampling 2. Dengan konsentrasi TSP terendah sebesar 37 µg/Nm3/24 jam pada tanggal 25 Juli 2007 pada titik sampling 2 dan tertinggi sebesar 74 µg/Nm3/24 jam pada tanggal 22 Agustus 2007 pada titik sampling 1. Terdapat perbedaan konsentrasi TSP rata – rata perhari antara titik sampling 1 dan titik sampling 2.

  1. IV. Kesimpulan dan Saran

4.1 Kesimpulan

  1. Dari hasil laboratorium BTKL PPM Palembang, pada titik sampling satu dan dua, kualitas udara ambient di pemukiman penduduk sekitar PT. PUSRI pada tanggal 23 – 25 Juli 2007 dan 21 – 23 Agustus 2007 masuk dalam kategori Memenuhi Syarat (MS).
  2. Konsentrasi gas amoniak, sulfur dioksida, karbonmonoksida dan total solid partikel pada titik sampling 1 lebih tinggi dari titik sampling 2 karena disebabkan lokasi titik 1 lebih dekat dengan pabrik PT. PUSRI Palembang dibandingkan dengan titik sampling 2.
  3. Konsentrasi amoniak terendah sebesar 146 µg/Nm3/24 jam pada tanggal 23 Juli 2007 di titik sampling 2 dan tertinggi sebesar 529 µg/Nm3/24 jam pada tanggal 23 Agustus 2007 di titik sampling 1.
  4. Konsentrasi sulfur dioksida terendah sebesar 52  µg/Nm3/1 jam pada tanggal 23 Agustus 2007 pada titik sampling 2 dan tertinggi sebesar 84,33 µg/Nm3/1 jam pada tanggal 23 Agustus 2007 pada titik sampling 1.
  5. Konsentrasi karbonmonoksida terendah sebesar 3100  µg/Nm3/1 jam pada tanggal 22 Agustus 2007 pada titik sampling 2 dan tertinggi sebesar 5900 µg/Nm3/1 jam pada tanggal 23 Juli 2007 pada titik sampling 1.
  6. konsentrasi nitrogen dioksida terendah sebesar 25 µg/Nm3/1 jam pada tanggal 23 Agustus 2007 pada titik sampling 1 dan tertinggi sebesar 53,33 µg/Nm3/1 jam pada tanggal 22 Agustus 2007 pada titik sampling 2.
  7. konsentrasi TSP terendah sebesar 37 µg/Nm3/24 jam pada tanggal 25 Juli 2007 pada titik sampling 2 dan tertinggi sebesar 74 µg/Nm3/24 jam pada tanggal 22 Agustus 2007 pada titik sampling 1.

4.2 Saran

  1. Perlu dilakukan pemantauan secara rutin dan terus – menerus untuk mengetahui kondisi ambient di lingkungan pemukiman penduduk sekitar PT. PUSRI Palembang.
  2. Perlu dilakukan analisa risiko kesehatan pada penduduk di sekitar PT. PUSRI Palembang.

Daftar Pustaka

Achmadi, U.F. 2005, Managemen Penyakit Berbasis Wilayah, PT Kompas Media Nusantara, Jakarta.

Leave a comment »

KAJIAN FAKTOR RISIKO DI KAWASAN INDUSTRI PT. SEMEN BATURAJA KABUPATEN OKU TAHUN 2007

KAJIAN FAKTOR RISIKO DI KAWASAN INDUSTRI PT. SEMEN BATURAJA KABUPATEN OKU TAHUN 2007

Pendahuluan

Provinsi Sumatera selatan sebagai wilayah kerja BTKL PPM Palembang memiliki industri semen yang cukup besar yaitu PT. Semen Baturaja, yang tepatnya terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Proses produksi yang dilakukan meliputi kegiatan penambangan bahan baku batu kapur dan tanah liat, kegiatan penggilingan bahan baku dengan bahan penolong utama pembuat semen seperti pasir silika, pasir besi dan gypsum serta kegiatan pengantongan semen (PT. Semen Baturaja, 2006).

Di sekitar lokasi PT. Semen Baturaja terdapat pemukiman penduduk yang relatif padat. Ini berarti penduduk disekitar memiliki risiko tinggi untuk terpajan partikel debu yang dihasilkan industri semen, terutama balita karena balita lebih rentan mengalami gangguan saluran pernafasan dibandingkan orang dewasa. Menurut badan Environmental Protection Agency yang dikutip Purwana (1999), bayi dan balita adalah kelompok umur yang berisiko tinggi terhadap dampak pencemaran udara dan termasuk kelompok umur yang berisiko terhadap penyakit saluran pernafasan. Selain itu, bayi dan balita juga lebih stasioner sehingga mudah mengikuti mobilisasinya.

Risiko yang sering terjadi adalah timbulnya penyakit yang berkaitan dengan masalah pernafasan. Di Kabupaten OKU Sumatera Selatan, masalah penyakit pnemonia menempati urutan teratas dalam sepuluh penyebab kematian dengan kontribusi sebesar 53,42% (Hatta, 2001). Hal ini diperkuat oleh target penemuan balita penderita ISPA pada penduduk sekitar PT. Semen Baturaja yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Tanjung Agung yang jumlahnya paling besar dibandingkan daerah lainnya di Kabupaten OKU yaitu sebesar 13,88% dari total target penemuan balita penderita ISPA (Dinkes OKU, 2006). Meskipun demikian faktor risiko ISPA ternyata tidak hanya terdiri satu penyebab saja. Karakteristik balita seperti umur dan status gizi serta lingkungan fisik rumah turut menjadi faktor risiko ISPA.

Atas dasar inilah, seksi ADKL BTKL PPM Palembang akan menyusun kajian mengenai pencemaran udara di kawasan industri dan pemukiman penduduk dalam Program Lingkungan Sehat.

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan mengetahui kualitas udara di sekitar PT. Semen Baturaja dan hubungannya dengan kondisi kesehatan masyarakat disekitar lokasi. Dalam kegiatan ini akan dilakukan pengamatan dan pengukuran kualitas udara di pemukiman sekitar PT. Semen Baturaja sekaligus pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan gangguan kesehatan masyarakat setempat khususnya ISPA.

Manfa’at

  1. Menjadi bahan referensi ilmiah untuk menambah pengetahuan khususnya bagi tenaga kesehatan masyarakat mengenai faktor yang berpengaruh terhadap gangguan saluran pernafasan sehingga dapat melakukan tindakan pencegahan.
  2. Menjadi bahan pertimbangan untuk rekomendasi mengenai pengendalian pencemaran udara serta pengendalian penyakit khususnya ISPA.

Ruang Lingkup

  1. a. Lingkup Lokasi

Penelitian ini dilaksanakan di pemukiman penduduk di sekitar lokasi PT. Semen Baturaja.

  1. b. Lingkup Waktu

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni – Agustus Tahun 2007.

Metodologi Penelitian

Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional untuk mencari hubungan pada suatu waktu tertentu.

Populasi dan sampel

Populasi penelitian ini adalah masyarakat di pemukiman sekitar lokasi PT. Semen Baturaja yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Tanjung Agung.

Sampel dalam penelitian ini diambil berdasarkan cluster sampling dimana populasi tersebar dalam beberapa kelompok berdasarkan titik pengukuran ambient. Pengambilan sampel dilakukan pada tiap titik pengukuran, yaitu di 8 titik berdasarkan arah mata angin dengan radius 500 m – 1000 m dari cerobong asap PT. Semen Baturaja. Akan tetapi, karena titik ke 8 bukan merupakan daerah pemukiman penduduk, maka jumlah titik pengambilan sampel hanya berjumlah 7 titik.

Teknik Pengumpulan Data

Jenis Data

Data dalam penelitian ini terdiri dari :

  1. Data primer

Data primer berupa data kesehatan dialami oleh masyarakat, data lingkungan fisik rumah dan data hasil pengukuran kualitas udara ambient.

  1. Data Sekunder

Data sekunder berupa data penderita ISPA tahun 2006 yang diperoleh dari Puskesmas Tanjung Agung.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Hasil analisa kualitas udara ambient di pemukiman penduduk sekitar PT. Semen Baturaja dapat disajikan pada tabel dibawah ini :

Periode I

Tabel 1. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

RS. Antonio Ds. Air Gading Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

05:45

17:15

1

Suhu

0C

24,1

26,8

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

79

72

3

SO2

µg/Nm3/1jam

262,0

524,1

4

NO2

µg/Nm3/1jam

10,8

10,8

5

CO

µg/Nm3/1jam

5269,76

5269,76

6

PM10

µg/Nm3/24jam

254

145

Sumber : Data Primer

Tabel 2. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Desa Air Gading (Depan Bengkel Wandi)

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

06:50

16:50

1

Suhu

0C

24,9

28,4

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

82

71

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1261,26

1261,26

6

PM10

µg/Nm3/24jam

158

160

Sumber : Data Primer

Tabel 3. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Halaman Pustu TI. Jawa Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

07:30

17:50

1

Suhu

0C

26,2

26,9

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

84

74

3

SO2

µg/Nm3/1jam

262,0

262,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1261,26

5155,2

6

PM10

µg/Nm3/24jam

54

158

Sumber : Data Primer

Tabel 4. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Pemukiman Desa TI. Jawa Rt 12/13/14

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

08:05

19:00

1

Suhu

0C

27,7

27,7

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

79

79

3

SO2

µg/Nm3/1jam

524,1

524,1

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1261,26

2062,1

6

PM10

µg/Nm3/24jam

220

220

Sumber : Data Primer

Tabel 5. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Belakang Puskesmas Tj. Agung Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

08:40

19:40

1

Suhu

0C

27,8

27,0

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

71

80

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

10,8

5

CO

µg/Nm3/1jam

572,8

572,8

6

PM10

µg/Nm3/24jam

90

222

Sumber : Data Primer

Tabel 6. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Perum KPR Jl. Lintas Sumatera Desa Sukajadi Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

09:47

21:15

1

Suhu

0C

30,9

26,4

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

72

83

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

0,0

1260,2

6

PM10

µg/Nm3/24jam

17

192

Sumber : Data Primer

Tabel 7. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Jl. Lintas Sumatera (Arah Muara Enim) Desa Sukajadi

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

10:25

21:50

1

Suhu

0C

25,5

25,5

2

Kelembaban

%RH

70

81

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1260,2

1260,2

6

PM10

µg/Nm3/24jam

81

94

Sumber : Data Primer

Tabel 8. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Perum PT. SB (Dkt Rel KA) Desa Sukajadi Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

11:00

22:30

1

Suhu

0C

26,2

26,2

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

72

82

3

SO2

µg/Nm3/1jam

262,0

262,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1260,2

5842,6

6

PM10

µg/Nm3/24jam

130

163

Sumber : Data Primer

Periode II (12 – 13 Juli 2007)

Tabel 9. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

RS. Antonio Ds. Air Gading Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

06:25

17:20

1

Suhu

0C

26,9

27,1

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

71

70

3

SO2

µg/Nm3/1jam

100

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

20

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

3544

1260,2

6

PM10

µg/Nm3/24jam

171

169

Sumber : Data Primer

Tabel 10. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Desa Air Gading (Depan Bengkel Wandi)

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

06:50

16:50

1

Suhu

0C

27,2

28,1

2

Kelembaban

%RH

72

73

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1400

572,8

6

PM10

µg/Nm3/24jam

112

144

Sumber : Data Primer

Tabel 11. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Halaman Pustu TI. Jawa Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

07:30

17:50

1

Suhu

0C

27,8

27,0

2

Kelembaban

%RH

70

73

3

SO2

µg/Nm3/1jam

88

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

20

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

145

0,0

6

PM10

µg/Nm3/24jam

53

136

Sumber : Data Primer

Tabel 12. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Pemukiman Desa TI. Jawa Rt 12/13/14

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

09:30

18:30

1

Suhu

0C

27,5

27,5

2

Kelembaban

%RH

75

75

3

SO2

µg/Nm3/1jam

265

265

4

NO2

µg/Nm3/1jam

46

46

5

CO

µg/Nm3/1jam

2143

2143

6

PM10

µg/Nm3/24jam

141

141

Sumber : Data Primer

Tabel 13. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Belakang Puskesmas Tj. Agung Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

08:10

19:10

1

Suhu

0C

27,3

26,9

2

Kelembaban

%RH

71

78

3

SO2

µg/Nm3/1jam

60

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0.0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

602

721

6

PM10

µg/Nm3/24jam

62

136

Sumber : Data Primer

Tabel 14. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Perum KPR Jl. Lintas Sumatera Desa Sukajadi Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

08:50

20:50

1

Suhu

0C

27,6

26,8

2

Kelembaban

%RH

72

81

3

SO2

µg/Nm3/1jam

42

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

13

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

320

213

6

PM10

µg/Nm3/24jam

34

132

Sumber : Data Primer

Tabel 15. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Jl. Lintas Sumatera (Arah Muara Enim) Desa Sukajadi

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

10:10

21:30

1

Suhu

0C

25,8

25,8

2

Kelembaban

%RH

80

80

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1654

1654

6

PM10

µg/Nm3/24jam

56

56

Sumber : Data Primer

Tabel 16. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Perum PT. SB (Dkt Rel KA) Desa Sukajadi Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

10:50

22:10

1

Suhu

0C

25,6

25,6

2

Kelembaban

%RH

79

79

3

SO2

µg/Nm3/1jam

145

145

4

NO2

µg/Nm3/1jam

45

45

5

CO

µg/Nm3/1jam

2103

2103

6

PM10

µg/Nm3/24jam

102

102

Sumber : Data Primer

Periode III (11 – 13 Agustus 2007)

Tabel 17. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

RS. Antonio Ds. Air Gading Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

07:50

18:00

1

Suhu

0C

26,9

27,4

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

71

73

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

186

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

43

5

CO

µg/Nm3/1jam

1265

6498

6

PM10

µg/Nm3/24jam

221

187

Sumber : Data Primer

Tabel 18. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Desa Air Gading (Depan Bengkel Wandi)

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

06:50

16:50

1

Suhu

0C

27,2

27,7

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

72

72

3

SO2

µg/Nm3/1jam

250

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

12,5

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

6200

1354

6

PM10

µg/Nm3/24jam

152

159

Sumber : Data Primer

Tabel 19. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Halaman Pustu TI. Jawa Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

08:40

18:50

1

Suhu

0C

28

27,3

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

69

72

3

SO2

µg/Nm3/1jam

200

174

4

NO2

µg/Nm3/1jam

50

43

5

CO

µg/Nm3/1jam

1520

2540

6

PM10

µg/Nm3/24jam

57

176

Sumber : Data Primer

Tabel 20. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Pemukiman Desa TI. Jawa Rt 12/13/14

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

09:30

20:30

1

Suhu

0C

27,9

27,9

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

73

73

3

SO2

µg/Nm3/1jam

422

422

4

NO2

µg/Nm3/1jam

36

36

5

CO

µg/Nm3/1jam

1420

1420

6

PM10

µg/Nm3/24jam

167

167

Sumber : Data Primer

Tabel 21. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Belakang Puskesmas Tj. Agung Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

07:00

16:20

1

Suhu

0C

27,3

27,6

2

Kelembaban

%RH

71

71

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

526

568

6

PM10

µg/Nm3/24jam

104

136

Sumber : Data Primer

Tabel 22. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Perum KPR Jl. Lintas Sumatera Desa Sukajadi Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

08:00

17:10

1

Suhu

0C

27,6

29,2

2

Kelembaban

%RH

72

71

3

SO2

µg/Nm3/1jam

10

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1200

246

6

PM10

µg/Nm3/24jam

26

132

Sumber : Data Primer

Tabel 23. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Jl. Lintas Sumatera (Arah Muara Enim) Desa Sukajadi

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

09:00

17:50

1

Suhu

0C

27,4

26,8

2

Kelembaban

%RH

70

70

3

SO2

µg/Nm3/1jam

55

26

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1840

998

6

PM10

µg/Nm3/24jam

59

56

Sumber : Data Primer

Tabel 24. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Perum PT. SB (Dkt Rel KA) Desa Sukajadi Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

09:50

19:10

1

Suhu

0C

27,9

28,5

2

Kelembaban

%RH

71

70

3

SO2

µg/Nm3/1jam

185

249

4

NO2

µg/Nm3/1jam

43

14

5

CO

µg/Nm3/1jam

1520

1360

6

PM10

µg/Nm3/24jam

97

102

Sumber : Data Primer

Pembahasan

Berdasarkan analisa hasil pengukuran kualitas udara ambient di pemukiman penduduk sekitar PT. Semen Baturaja diketahui bahwa kadar PM10 dalam udara ambient ada yang melebihi nilai ambang batas, sedangkan untuk parameter yang lainnya masih memenuhi persyaratan baku mutu lingkungan di daerah industri.

Dari hasil analisis pengukuran PM10 diketahui bahwa ada sebanyak 24 dari 43 titik (57%) pengukuran yang kadar PM10 nya sesuai persyaratan baku mutu lingkungan yang respondennya memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Sedangkan 19 titik dari pengukuran PM10 nya tidak sesuai persyaratan baku mutu lingkungan (43%) yang memiliki gejala gangguan saluran pernafasan.

PM10 termasuk polutan di udara yang membahayakan bagi kesehatan manusia. Partikel dengan ukuran kurang dari 10 mikron dapat mempengaruhi kesehatan manusia sebab dapat masuk dan terakumulasi di dalam saluran pernafasan. Menurut EPA (Environmental Protection Agency), PM10 cukup kecil untuk dapat masuk atau terhisap dan terakumulasi dalam pernafasan. Dalam 1 dekade terakhir, penelitian kesehatan mengindikasikan adanya masalah kesehatan.

Mengkorelasikan antara pencemar udara dan dampaknya terhadap kesehatan tidaklah mudah karena jumlah dan keanekaragaman zat pencemar, kesulitan dalam mendeteksi zat pencemar yang membahayakan pada konsentrasi rendah, interaksi sinergistik antara zat – zat pencemar, kesulitan dalam mengisolasi faktor – faktor tunggal bilamana masyarakat telah terpajan zat/senyawa kimia selama bertahun – tahun dan penyebab jamak serta panjangnya masa inkubasi dari penyakit – penyakit (Kusnoputranto, 2006). Selain itu, lamanya tinggal di tempat hunian yang berpotensi tinggi mengalami pencemaran udara turut mempengaruhi timbulnya gangguan saluran pernafasan pada masyarakat. Lama tinggal orang dewasa mungkin akan lebih dapat menggambarkan pajanan polusi udara yang diterima dibandingkan dengan bayi dab balita.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat tersebut adalah kondisi lingkungan fisik rumah penduduk yaitu sebagai berikut :

  1. a. Kepadatan hunian

Tabel 25. Distribusi Kepadatan Hunian

No.

Kepadatan Hunian

Jumlah

Persentase (%)

1.

Tidak padat

78

78

2.

Padat

22

22

Total

100

100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 25. diatas bahwa distribusi kepadatan hunian rumah responden yaitu 78 rumah (78 %) balita responden dikategorikan tidak padat dan 22 rumah (22%) balita responden dikategorikan padat.

Hubungan antara kepadatan hunian dan gangguan saluran pernafasan pada masyarakat yang kita ambil berdasarkan kuesioner dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 26. Distribusi Responden Menurut Gangguan Saluran Pernafasan dan Kepadatan Hunian

Kepadatan Hunian

Gangguan Saluran Pernafasan

Total

Odds Ratio CI

X2H

Tidak Ada

Ada

n

%

n

%

N

%

Tidak padat 44 56,4 34 43,6 78 100

2,8

1,1-7,6

4,15

Padat 7 31,8 15 68,2 22 100
Total 51 51 49 49 100 100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa terdapat hubungan antara kepadatan hunian dengan gangguan saluran pernafasan karena nilai X2H > X2C. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai Odds Ratio (OR) = 2,8 (95% CI 1,1 – 7,6), artinya responden yang rumahnya dikategorikan padat mempunyai peluang 2,8 kali lebih besar untuk menderita gangguan saluran pernafasan dibandingkan dengan responden yang rumahnya tidak padat. Hasil ini sejalan dengan penelitian Hatta (2001) yang menunjukkan hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian pneumonia pada bayi dan balita di Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Menurut Kepmenkes R.I. No. 829 Tahun 1999, luas ruangan tidur minimal 8 m2 dan tidak dianjurkan lebih dari 2 orang. Ruangan yang sempit dan tidak sesuai dengan jumlah penghuninya akan mempunyai dampak kurangnya oksigen dalam ruangan sehingga daya tahan tubuh penghuninya menurun, kemudian cepat timbulnya penyakit saluran pernafasan seperti ISPA. Ruangan yang sempit akan membuat nafas sesak dan mudah tertular penyakit oleh anggota keluarga yang lain. Hasil penelitian Poerno dalam Navianti (2002) menunjukkan hubungan yang tinggi antara jumlah koloni bakteri dengan kepadatan penghuni per m2, sehingga memudahkan penularan penyakit terutama penyakit saluran pernafasan.

  1. b. Ventilasi

Tabel 27. Distribusi Ventilasi

No.

Ventilasi

Jumlah

Persentase (%)

1.

Baik

78

78

2.

Tidak baik

22

22

Total

100

100

Sumber : Data Primer

Hubungan antara ventilasi dengan gangguan saluran pernafasan pada masyarakat yang diambil berdasarkan kuesioner dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 28. Distribusi Responden Menurut Gangguan Saluran Pernafasan dan Ventilasi

Ventilasi

Gangguan Saluran Pernafasan

Total

X2H

Tidak Ada

Ada

n

%

n

%

N

%

Baik 40 51,3 38 48,7 78 100

0,0113

Tidak baik 11 50 11 50 22 100
Total

51

51

49

49

100

100

Sumber : Data Primer

Hasil analisis diketahui bahwa ada sebanyak 38 dari 78 (48,7 %) responden dengan ventilasi rumah yang baik memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Sedangkan dari 22 responden dengan ventilasi rumah tidak baik (50%) yang memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara ventilasi dengan gangguan saluran pernafasan pada balita karena nilai  X2H <X2C.

  1. c. Bahan bakar

Tabel 29. Distribusi Bahan Bakar Rumah Tangga

No.

Bahan Bakar RT

Jumlah

Persentase (%)

1.

Bukan kayu bakar

94

94

2.

Kayu bakar

6

6

Total

100

100

Sumber : Data Primer

Tabel 30. Distribusi Responden Menurut Gangguan Saluran Pernafasan dan Bahan Bakar Rumah Tangga

Bahan Bakar Rumah Tangga

Gangguan Saluran Pernafasan

Total

P

Tidak Ada

Ada

n

%

n

%

N

%

Bukan kayu bakar 49 52,1 45 47,9 94 100

0,162

Kayu bakar 2 33,3 4 66,7 6 100
Total

51

51

49

49

100

100

Sumber : Data Primer

Hasil analisis diketahui bahwa ada sebanyak 45 dari 94 (47,9%) responden yang di rumahnya menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar rumah tangga memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Sedangkan dari 6 responden yang di rumahnya menggunakan kayu bakar (66,7%) yang memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara bahan bakar rumah tangga dengan gangguan saluran pernafasan pada balita karena nilai P > a.

  1. d. Anti nyamuk

Tabel 31. Distribusi Anti Nyamuk

No.

Anti Nyamuk

Jumlah

Persentase (%)

1.

Bukan Anti Nyamuk Bakar

85

85

2.

Anti Nyamuk Bakar

15

15

Total

100

100

Sumber : Data Primer

Tabel 32. Distribusi Responden Menurut Gangguan Saluran Pernafasan dan Anti Nyamuk

Anti Nyamuk

Gangguan Saluran Pernafasan

Total

X2H

Tidak Ada

Ada

n

%

n

%

N

%

Bukan Anti Nyamuk Bakar

46

54,1

39

45,9

85

100

2,204

Anti Nyamuk Bakar

5

33,3

10

66,7

15

100

Total

51

51

49

49

100

100

Sumber : Data Primer

Hasil analisis diketahui bahwa ada sebanyak 39 dari 85 (45,9%) responden yang di rumahnya tidak menggunakan anti nyamuk bakar memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Sedangkan dari 15 responden yang di rumahnya menggunakan anti nyamuk (66,7%) yang memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Berdasarkan uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara anti nyamuk dengan gangguan saluran pernafasan pada balita karena nilai X2H < X2C. Hasil ini sejalan dengan penelitian Handajani dalam Navianti (2002) yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan secara statistik antara pengguna obat nyamuk bakar dalam rumah dengan kejadian ISPA.

Penutup

Kesimpulan

  1. Distribusi kadar PM10 dalam udara ambient terdiri dari 43 titik (57%) pengukuran kadar PM10 nya sesuai dengan persyaratan baku mutu lingkungan dan 19 titik (43%) kadar PM10nya melebihi persyaratan baku mutu lingkungan.
  2. Distribusi lingkungan fisik rumah terdiri dari :
    1. Menurut kepadatan hunian rumah responden terdiri dari 78 rumah (78%) tidak padat dan hanya 22 rumah (22%) padat.
    2. Menurut ventilasi rumah responden terdiri dari 78 rumah (78%) memiliki ventilasi yang baik dan hanya 22 rumah (22%) ventilasinya tidak baik.
    3. Menurut bahan bakar rumah tangga rumah yang menggunakan bahan bakar bukan kayu bakar sebanyak 94 rumah (94%) dan hanya 6 rumah (6%) yang menggunakan kayu bakar.
    4. Menurut anti nyamuk rumah responden yang menggunakan anti nyamuk bukan anti nyamuk bakar sebanyak 85 rumah (85%) dan yang menggunakan anti nyamuk sebanyak 15 rumah (15%)
  3. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar PM10 dalam udara ambient dengan gangguan saluran pernafasan pada penduduk di sekitar PT. Semen Baturaja OKU.
  4. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lingkungan fisik rumah (ventilasi, bahan bakar rumah tangga dan anti nyamuk) dengan gangguan saluran pernafasan pada masyarakat, terkecuali kepadatan hunian yang mempunyai hubungan bermakna dengan gangguan saluran pernafasan.

Saran

1)       Dilihat dari aspek lingkungan, Dinas Kesehatan dapat bekerja sama dengan PT. Semen Baturaja dalam memperbaiki green barrier di sekitar PT. Semen Baturaja agar lebih dapat meminimalisir efek negatif ke lingkungan.

2)       Perlunya peningkatan penemuan penderita ISPA secara dini melalui pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman serta kesadaran masyarakat tentang gejala dan tanda ISPA dan berbagai akibat buruknya melalui penyuluhan dan pelatihan kepada ibu balita dan kader posyandu.

3)       Dapat dilakukan penelitian selanjutnya mengenai hubungan kadar PM10 dalam rumah atau indikator – indikator polusi udara dalam rumah lainnya dengan kejadian pneumonia (lebih spesifik dari ISPA).

Leave a comment »

KAJIAN KUALITAS AIR BERSIH DI KAB. BELITUNG PROVINSI BANGKA BELITUNG TAHUN 2007

KAJIAN KUALITAS AIR BERSIH DI KAB. BELITUNG PROVINSI BANGKA BELITUNG TAHUN 2007

Pendahuluan

Latar Belakang

Cakupan air bersih pada Kabupaten Belitung sebesar 61,7 % (Profil Kesehatan Kabupaten Belitung, 2005), dengan akses air bersih yang berasal dari ledeng dan sumur gali.

Mengingat bahwa berbagai penyakit dapat pula dibawa oleh air kepada manusia pada saat manusia memanfa’atkannya, maka perlu dilakukan pencegahan terhadap penyakit bawaan air. Untuk itu perlu dilakukannya pemeriksaan terhadap kualitas air bersih menurut Permenkes No. 416 tahun 1990 untuk melihat gambaran kualitas air bersih yang berasal dari sumur bor, sumur gali masyarakat, air ledeng (PDAM) dan air kolong yang menjadi sumber air baku bagi air PDAM.

Rumusan Masalah

Bagaimanakah gambaran kualitas secara fisik dan kimiawi air bersih yang digunakan masyarakat pada Kabupaten Belitung tahun 2007 ?.

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Untuk mengetahui kondisi kualitas air bersih yang berasal dari sumur bor dan sumur gali, air kolong dan air ledeng (PDAM) di Kabupaten Belitung tahun 2007.

Tujuan Khusus

Untuk mengetahui kualitas fisik dan kimia air sumur bor, sumur gali, air kolong dan air ledeng (PDAM) yang dipakai masyarakat Kabupaten Belitung tahun 2007.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara observasional pada sumber air bersih yang digunakan oleh masyarakat dan melakukan pengambilan sampel air bersih tersebut.

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah air sumur bor, sumur gali masyarakat, air ledeng dan air kolong yang menjadi air baku air ledeng di Kabupaten Belitung tahun 2007.

Sampel penelitian diambil berdasarkan metode purposive sampling yaitu sampel ditarik sedemikian rupa pada suatu populasi berdasarkan pada pertimbangan pribadi peneliti (Bachtiar, 2000). Besar sampel yang diambil adalah 15 (lima belas) buah yang terbagi untuk air kolong, air sumur gali, air sumur bor, air ledeng, air pemandian umum dan diambil sebanyak 2 periode di tempat yang sama. Jadi jumlah total sampel sebanyak 30 buah. Setiap pengambilan sampel air bersih, dilakukan observasi terhadap lingkungan sekitar tempat pengambilan sampel. Hal ini dilakukan untuk melihat faktor – faktor yang diprediksikan dapat berhubungan dengan keadaan kualitas air bersih yang ada.

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kabupaten Belitung pada 24 – 25 Mei 2007 dan 2 – 3 Agustus 2007.

Hasil Penelitian

Untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian maka hasil akan disajikan secara deskriptif. Di bawah ini adalah tabel mengenai data sampel air bersih Kabupaten Belitung tahun 2007.

Tabel 1. Data Sampel Air Bersih Kabupaten Belitung 2007

No

Nama

Alamat

Jenis Sampel

Titik Ordinat

1

Bp. Agus Tanjung Pandan SGL S 020 44’ 20 4”

E 1070 39’ 29 5”

2

Bp. Zaindra Tanjung Pandan SGL S 020 44’ 15 1”

E 1070 39’ 51 2”

3

Bp. Jasmin Tanjung Pandan SGL S 020 44’ 15 4”

E 1070 39’ 51 4”

4

Sumur Umum Tanjung Pandan SGL S 020 44’ 14 2”

E 1070 39’ 52 8”

5

Ds. Lesung Batang Tanjung Pandan Air Kolong S 020 44’ 20 2”

E 1070 39’ 29 5”

6

Blk Kebidanan RS. Belitung SGL S 020 44’ 22 6”

E 1070 37’ 48 8”

7

Blk Kamar Mayat RS. Belitung SGL S 020 44’ 22 7”

E 1070 37’ 48 8”

8

Blk IPRS RS. Belitung Sumur Bor S 020 44’ 21 3”

E 1070 37’ 47 9”

9

PDAM Dukong Tanjung Pandan Air Ledeng S 020 46’ 56 8”

E 1070 39’ 05 6”

10

Kolong Dukong Tanjung Pandan Air Kolong S 020 47’ 02 3”

E 1070 39’ 13 8”

11

PemandianSuci Indah Badau Air Kolong S 020 48’ 50 4”

E 1070 36’ 11 9”

12

Pemandian Suci Indah Badau Air Pemandian S 020 48’ 50 6”

E 1070 36’ 11 11”

13

Suci Indah Badau Sumur bor S 020 48’ 50 8”

E 1070 36’ 11 13”

14

Bp. Sunaryo Tanjung Pandan SGL S 020 45’ 12 4”

E 1070 39’ 27 8”

15

Bp. Jauhari Tanjung Pandan SGL S 020 44’ 28 5”

E 1070 38’ 25 9”

Sumber : Data Primer

Parameter fisik yang diperiksa yaitu TDS, kekeruhan, suhu dan warna. Sedangkan parameter kimia yang diperiksa adalah raksa, arsen, besi, fluorida, kadmium, kesadahan, klorida, kromium, mangan, nitrat, nitrit, pH, selenium, seng, sulfat, timbal, zat organik dan amoniak bebas. Berikut adalah tabel sampel air bersih yang termasuk kategori Tidak Memenuhi Syarat (TMS) menurut Permenkes No. 416 tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih.

Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Sampel Air Bersih Kabupaten Belitung Tahun 2007

No

Nama

Jenis Sampel

Periode Pengambilan Sampel

Jenis Parameter Per Periode

1

2

1

2

1

Agus SGL

MS

TMS

pH

2

Zaindra SGL

MS

TMS

pH

3

Jasmin SGL

MS

TMS

pH

4

Sumur Umum SGL

MS

MS

5

Ds. Lesung Batang Air Kolong

MS

TMS

pH

6

Blk. IPSRS SGL

TMS

TMS

Warna, besi

Warna, besi, pH

7

Blk. Kmr Mayat SGL

MS

MS

8

Blk. Kbidann Sumur Bor

MS

MS

9

PDAM Dukong Air Ledeng

TMS

TMS

pH

pH

10

Kolong Dukong Air Kolong

TMS

TMS

pH, warna

pH

11

Suci Indah Air Kolong

TMS

MS

pH, besi

12

Suci Indah Pemandian

TMS

TMS

pH, besi

pH

13

Suci Indah Sumur Bor

MS

TMS

pH

14

Sunaryo SGL

MS

TMS

pH

15

Jauhari SGL

TMS

TMS

Besi

pH

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 1

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada Bapak Agus S yang beralamat di Jl. Gatot Subroto No. 23 Tanjung Pandan, yang berasal dari air sumur gali. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode I adalah Memenuhi Syarat (MS) secara fisik dan kimia. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dengan jenis parameter yaitu pH sebesar 5,9. Berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih, parameter pH mempunyai nilai sebesar 6,5 – 9,0.

Grafik 3. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Bapak Agus Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 2

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada Bapak Zaindera Jl. Hasan Said No. 15 Tanjung Pandan yang berasal dari sumur gali. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah memenuhi syarat (MS) secara fisik dan kimia. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah tidak memenuhi syarat (TMS) dengan jenis parameter yaitu pH sebesar 6,23. Berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih, parameter pH mempunyai nilai sebesar 6,5 – 9,0.

Grafik 4. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Bapak Zaindera Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 3

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada Bpk. Jasmin, Jl. Hasan Said No. 15 Tanjung Pandan yang berasal dari sumur gali. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Memenuhi Syarat (MS) secara fisik dan kimia. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dengan jenis parameter yaitu pH sebesar 6,23. Berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih, parameter pH mempunyai baku mutu sebesar 6,5 – 9,0. Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Grafik 5. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Bapak Jasmin Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 4

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada sumur umum, Jl. Hasan Said Tanjung Pandan. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Memenuhi Syarat (MS) secara fisik dan kimia. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Memenuhi Syarat secara fisik dan kimia berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih. Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik 6. dibawah ini.

Grafik 6. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Umum Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 5

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada air kolong Ds. Lesung Batang Tanjung Pandan. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Memenuhi Syarat (MS) secara fisik dan kimia. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dengan jenis parameter yaitu pH sebesar 6,25. Berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih. Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik 7. dibawah ini.

Grafik 7. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Umum Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 6

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada air sumur bor di RS. Belitung Belakang Kebidanan. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Memenuhi Syarat (MS) secara fisik dan kimia. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Memenuhi Syarat secara fisik dan kimia berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih. Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik 8. dibawah ini.

Grafik 8. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Sumur Bor RS. Belitung Blk Kebidanan Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 7

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada air sumur gali di RS. Belitung Belakang Kamar Mayat. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Memenuhi Syarat (MS) secara fisik dan kimia. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Memenuhi Syarat secara fisik dan kimia berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih. Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik 9. dibawah ini.

Grafik 9. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Sumur Bor RS. Belitung Blk Kamar Mayat Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 8

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada air sumur gali di RS. Belitung Belakang IPSRS. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) secara fisik dan kimia dengan parameter warna sebesar 79 TCU dan besi sebesar 2,8307 mg/L. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dengan jenis parameter yaitu warna sebesar 72 TCU, pH sebesar 6,25 dan besi sebesar 1,5759mg/L. Berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih, parameter pH mempunyai nilai batas maksimum 6,5 – 9,0, warna sebesar 50 TCU dan besi sebesar 1,0 mg/L. Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik 10. dibawah ini.

Grafik 10. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Sumur Bor RS. Belitung Blk IPSRS Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 9

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada air PDAM Dukong. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) secara fisik dengan parameter pH sebesar 6,13. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dengan jenis parameter pH sebesar 5,25. Berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih, parameter pH mempunyai nilai batas maksimum 6,5 – 9,0. Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik 11. dibawah ini.

Grafik 11. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

PDAM Dukong Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 10

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada air kolong Desa Dukong. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) secara fisik dengan parameter pH sebesar 6,13 dan warna sebesar 53 TCU. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dengan jenis parameter pH sebesar 6,07. Berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih, parameter pH mempunyai nilai batas maksimum 6,5 – 9,0 dan warna sebesar 50 TCU. Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik 12. dibawah ini.

Grafik 12. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Kolong Desa Dukong Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 11

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada air kolong Suci Indah. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) secara fisik dengan parameter pH sebesar 6,21 dan besi sebesar 1,3892 mg/L. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Memenuhi Syarat (MS) secara fisik dan kimia berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih., Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik 13. dibawah ini.

Grafik 13. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Kolong Suci Indah Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 12

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada air pemandian umum Suci Indah. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) secara fisik dan kimia dengan parameter pH sebesar 6,19 dan besi sebesar 1,0087 mg/L. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dengan jenis parameter pH sebesar 5,7. Berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih, parameter pH mempunyai nilai batas maksimum 6,5 – 9,0 dan besi dengan nilai batas maksimum 1 mg/L. Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik 14. dibawah ini.

Grafik 14. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Pemandian Umum Suci Indah Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 13

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada air sumur bor Suci Indah Kecamtan Badau. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Memenuhi Syarat (MS) secara fisik dan kimia. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dengan jenis parameter pH sebesar 4,9. Berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih, parameter pH mempunyai nilai batas maksimum 6,5 – 9,0. Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik 15. dibawah ini.

Grafik 15. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Sumur Bor Suci Indah Kec. Badau Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 14

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada air sumur gali Bapak Sunaryo dengan alamat Jalan Anwar Blok E No. 8 Komplek Marakas Tanjung Pandan. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Memenuhi Syarat (MS) secara fisik dan kimia. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dengan jenis parameter pH sebesar 4,9. Berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih, parameter pH mempunyai nilai batas maksimum 6,5 – 9,0. Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik 16. dibawah ini.

Grafik 16. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Sumur Gali Bpk. Sunaryo Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Hasil Pemeriksaan Pada Sampel 15

Pengambilan sampel air bersih dilakukan pada air sumur gali Bapak Jauhari dengan alamat Jalan Kamboja 3 No. 14 Rahat Dalam Tanjung Pandan. Hasil yang didapat pada pengambilan sampel periode 1 adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) secara kimia dengan parameter besi sebesar 4,0143 mg/L. Sedangkan pada pengambilan sampel periode 2 hasil pemeriksaan laboratorium adalah Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dengan jenis parameter pH sebesar 4,28. Berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air bersih, parameter pH mempunyai nilai batas maksimum 6,5 – 9,0 dan besi dengan nilai maksimum 1 mg/L. Lebih jelas hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik 17. dibawah ini.

Grafik 17. Pemeriksaan Kualitas Sampel Air

Sumur Gali Bpk. Jauhari Periode 1 dan 2

Sumber : Data Primer

Visualisai Trend Konsentrasi Zat

yang Tidak Memenuhi Syarat

Konsentrasi pH

Grafik 18. Gambaran Konsentrasi pH pada

Air Bersih Kabupaten Belitung

Sumber : Data Primer

Konsentrasi pH di sebagian besar (16) lokasi titik sampling kurang dari batas yang diperbolehkan (bersifat asam). Dapat dilihat pada grafik 18 dengan tanda di bawah garis ungu, dengan pH terendah terjadi di lokasi Jauhari 2. Rata – rata konsentrasi pH pada sampel air bersih Kabupaten Belitung Tahun 2007 adalah 6,48.

Konsentrasi Warna

Grafik 19. Gambaran Konsentrasi Warna pada

Air Bersih Kabupaten Belitung

Sumber : Data Primer

Konsentrasi warna melebihi batas terjadi pada lokasi belakang kebidanan 2, belakang IPSRS 1 dan kolong dukong 1. Konsentrasi warna tertinggi terjadi pada belakang IPSRS 1 sebesar 79 skala TCU. Rata – rata konsentrasi warna adalah 20,3 TCU (warna kuning).

Konsentrasi Besi

Grafik 20. Gambaran Konsentrasi Besi pada

Air Bersih Kabupaten Belitung

Sumber : Data Primer

Konsentrasi besi melebihi nilai maksimal terjadi pada titik lokasi belakang kebidanan 2, belakang IPSRS 1, kolong suci indah 1, pemandian umum suci indah 1 dan Jauhari 1 (warna merah). Konsentrasi besi tertinggi melebihi batas terjadi pada Jauhari 1 sebesar 4,0143 mg/L. Rata – rata konsentrasi besi adalah 0,4944 mg/L (warna kuning).

Pembahasan

Keterbatasan Disain

Penelitian ini memakai desain penelitian observasional dengan menggunakan data primer sehingga tidak terlepas dari beberapa keterbatasan, antara lain (Murti, 1997) :

  1. Tidak cocok untuk menganalisis hubungan kausal paparan dan penyakit
  2. Tidak untuk menguji hipotesa

Keterbatasan Data

Data yang digunakan berasal dari pengambilan sampel secara purposive sehingga sangat sulit untuk dilakukan generalisasi terhadap populasi yang ada. Sehingga gambaran yang dapat hanya menunjukkan konsentrasi zat pada lokasi sampling tersebut.

Tidak semua variabel yang mungkin dapat berhubungan dengan kualitas air bersih dapat diteliti karena adanya keterbatasan sumber data (tidak adanya data di lapangan), padahal mungkin saja data yang tidak tersedia itu justru sangat berpengaruh terhadap kualitas air bersih.

Trend Konsentrasi Zat yang Tidak Memenuhi Syarat (TMS)

Konsentrasi pH

Konsentrasi pH air bersih yang terdapat pada 16 lokasi titik sampling bersifat asam dengan nilai terendah pada lokasi Jauhari 2. Hal ini dapat terjadi pada air bersih karena adanya berlebihnya penambahan zat pada pengolahan dan tingginya pembusukan serta penguraian zat – zat organik dalam air sehingga potensial menghasilkan senyawa asam. Untuk itu, perlu dilakukannya pengolahan air bersih sebelum dipakai sebagai sumber air bersih. Pengawasan pH penting bagi pengolahan air untuk menjamin proses penjernihan dan desinfeksi dengan klorin efektif (< 8) (Depkes, 1996).

Konsentrasi pH air bersih atau air minum sebaiknya bersifat netral (6,5 – 9,0), untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat dan korosi jaringan perpipaan distribusi air. pH yang tidak netral dapat melarutkan berbagai element kimia yang dilaluinya (Slamet, 2002). Sebaliknya apabila pH air > 8 menyebabkan rasa air seperti sabun (Depkes, 1996).

Konsentrasi Warna

Konsentrasi warna melebihi batas terjadi pada lokasi belakang kebidanan 2, belakang IPSRS 2, dan kolong dukong 1, dengan konsentrasi tertinggi terjadi pada sumur gali RS. Belitung belakang IPSRS 1. Hal ini dapat terjadi karena banyaknya peralatan perpipaan untuk distribusi air bersih yang sudah berkarat karena jika dilihat dari bentuk fisik sumur gali tersebut telah lama dibuat. Kadar besi pada air sumur gali RS. Belitung belakang IPSRS juga sudah diambang batas. Hal ini dapat mempengaruhi warna air yang ada.

Konsentrasi Besi

Konsentrasi besi melebihi batas terjadi pada titik lokasi belakang kebidanan 2, belakang IPSRS 1, kolong suci indah 1, pemandian umum suci indah 1 dan Jauhari 1 dengan nilai tertinggi terjadi pada sampel Jauhari 1 sebesar 4,0143 mg/L.

Adanya kandungan besi yang tinggi pada sumber air yang berasal dari sumur gali disebabkan oleh adanya kandungan besi yang ada di kerak bumi (Depkes, 1996).

Di alam terdapat kandungan besi sebagai hematit. Di dalam air minum besi menimbulkan rasa, warna (kuning), pengendapan pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi dan kekeruhan. (Slamet, 2002).

Dalam jumlah kecil, besi dibutuhkan oleh tubuh untuk pembentukan sel darah merah tetapi dalam jumlah yang melebihi batas dapat menimbulkan gangguan estetika seperti rasa air tidak enak (>2 mg/L), menimbulkan noda pada peralatan berwarna putih (1 mg/L), menimbulkan bau dan warna di dalam air (Sanropie, 1984).

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

  1. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium secara fisik, kimia sebanyak 12 (dua belas) buah sampel air bersih dari Kabupaten Belitung Tahun 2007, dikategorikan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) berdasarkan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan air.
  2. Parameter yang nilainya melebihi batas yang telah ditentukan untuk air bersih adalah pH (derajat keasaman), warna, besi. Sedangkan parameter lainnya masih memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
  3. Konsentrasi pH air bersih yang terdapat pada 16 titik sampling melebihi batas yang diperbolehkan. Dengan rata – rata pH adalah 6,48. Hal ini dapat karena tingginya pembusukan dan penguraian zat – zat organik dalam air sehingga potensial menghasilkan senyawa asam
  4. Konsentrasi warna melebihi batas terjadi pada titik lokasi belakang kebidanan 2, belakang IPSRS 2, dan kolong dukong 1. dengan konsentrasi tertinggi terjadi pada sumur gali RS. Belitung belakang IPSRS 1 sebesar 79 skala TCU. Rata – rata konsentrasi warna adalah 20,3 TCU. Hal ini dapat terjadi karena banyaknya peralatan perpipaan untuk distribusi air bersih yang sudah berkarat karena jika dilihat dari bentuk fisik sumur gali tersebut telah lama di buat.  Tingginya kadar besi dapat juga mempengaruhi warna pada air.
  5. Konsentrasi besi tertinggi melebihi batas terjadi pada titik Jauhari 1 sebesar 4,0143 mg/L. Rata – rata konsentrasi besi adalah 0,4944 mg/L. Adanya kandungan besi yang tinggi pada sumber air yang berasal dari sumur gali disebabkan oleh adanya kandungan besi yang ada dikerak bumi.
  6. Beberapa logam berat seperti kadmium, arsen, selenium dan timbal terdeteksi keberadaannya di dalam air bersih tetapi konsentrasinya masih dibawah baku mutu yang ditetapkan.

Saran

  1. Perlu dilakukan sosialisasi terhadap masyarakat setempat untuk melakukan pengolahan dan penyaringan pada air bersih yang dipakai juga untuk sumber air minum
  2. Perlu dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan berkala terhadap sumber air bersih masyarakat termasuk sumur bor, sumur gali, air PDAM dan air kolong sesuai dengan Permenkes No. 416 Tahun 1990 tentang syarat – syarat dan pengawasan kualitas air
  3. Mengembangkan teknologi tepat guna mengenai tata cara penyaringan cepat air bersih
  4. Sosialisasi pada masyarakat tentang upaya – upaya peningkatan kesehatan lingkungan
  5. Perlu dilakukan penilaian analisa risiko terhadap logam seperti kadmium, arsen, selenium dan timbal untuk memprediksi dampak kesehatan yang ditimbulkan

Daftar Pustaka

Bachtiar, Adang, dkk, Metodologi Penelitian Kesehatan, modul mata ajar, Universitas Indonesia, 2005

Departemen Kesehatan, Dasar Penetapan Dampak Kualitas Air Terhadap Kesehatan Masyarakat, Direktorat Penyehatan Air, Dirjen PPM & PL, 1996

Dinas Kesehatan, Profil Kesehatan Kabupaten Belitung, 2005.

Widyastuti, Palupi dan Ester, Monica, Bahaya Bahan Kimia pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan, Jakarta, 2002

Comments (1) »

Selamat datang di BTKL PPM Palembang

Blogs ini sebagai media informasi tentang kesehatan lingkungan dan berbagai upaya untuk penanggulangan masalah kesehatan.

Comments (1) »