KAJIAN FAKTOR RISIKO DI KAWASAN INDUSTRI PT. SEMEN BATURAJA KABUPATEN OKU TAHUN 2007

KAJIAN FAKTOR RISIKO DI KAWASAN INDUSTRI PT. SEMEN BATURAJA KABUPATEN OKU TAHUN 2007

Pendahuluan

Provinsi Sumatera selatan sebagai wilayah kerja BTKL PPM Palembang memiliki industri semen yang cukup besar yaitu PT. Semen Baturaja, yang tepatnya terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Proses produksi yang dilakukan meliputi kegiatan penambangan bahan baku batu kapur dan tanah liat, kegiatan penggilingan bahan baku dengan bahan penolong utama pembuat semen seperti pasir silika, pasir besi dan gypsum serta kegiatan pengantongan semen (PT. Semen Baturaja, 2006).

Di sekitar lokasi PT. Semen Baturaja terdapat pemukiman penduduk yang relatif padat. Ini berarti penduduk disekitar memiliki risiko tinggi untuk terpajan partikel debu yang dihasilkan industri semen, terutama balita karena balita lebih rentan mengalami gangguan saluran pernafasan dibandingkan orang dewasa. Menurut badan Environmental Protection Agency yang dikutip Purwana (1999), bayi dan balita adalah kelompok umur yang berisiko tinggi terhadap dampak pencemaran udara dan termasuk kelompok umur yang berisiko terhadap penyakit saluran pernafasan. Selain itu, bayi dan balita juga lebih stasioner sehingga mudah mengikuti mobilisasinya.

Risiko yang sering terjadi adalah timbulnya penyakit yang berkaitan dengan masalah pernafasan. Di Kabupaten OKU Sumatera Selatan, masalah penyakit pnemonia menempati urutan teratas dalam sepuluh penyebab kematian dengan kontribusi sebesar 53,42% (Hatta, 2001). Hal ini diperkuat oleh target penemuan balita penderita ISPA pada penduduk sekitar PT. Semen Baturaja yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Tanjung Agung yang jumlahnya paling besar dibandingkan daerah lainnya di Kabupaten OKU yaitu sebesar 13,88% dari total target penemuan balita penderita ISPA (Dinkes OKU, 2006). Meskipun demikian faktor risiko ISPA ternyata tidak hanya terdiri satu penyebab saja. Karakteristik balita seperti umur dan status gizi serta lingkungan fisik rumah turut menjadi faktor risiko ISPA.

Atas dasar inilah, seksi ADKL BTKL PPM Palembang akan menyusun kajian mengenai pencemaran udara di kawasan industri dan pemukiman penduduk dalam Program Lingkungan Sehat.

Tujuan

Kegiatan ini bertujuan mengetahui kualitas udara di sekitar PT. Semen Baturaja dan hubungannya dengan kondisi kesehatan masyarakat disekitar lokasi. Dalam kegiatan ini akan dilakukan pengamatan dan pengukuran kualitas udara di pemukiman sekitar PT. Semen Baturaja sekaligus pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan gangguan kesehatan masyarakat setempat khususnya ISPA.

Manfa’at

  1. Menjadi bahan referensi ilmiah untuk menambah pengetahuan khususnya bagi tenaga kesehatan masyarakat mengenai faktor yang berpengaruh terhadap gangguan saluran pernafasan sehingga dapat melakukan tindakan pencegahan.
  2. Menjadi bahan pertimbangan untuk rekomendasi mengenai pengendalian pencemaran udara serta pengendalian penyakit khususnya ISPA.

Ruang Lingkup

  1. a. Lingkup Lokasi

Penelitian ini dilaksanakan di pemukiman penduduk di sekitar lokasi PT. Semen Baturaja.

  1. b. Lingkup Waktu

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni – Agustus Tahun 2007.

Metodologi Penelitian

Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional untuk mencari hubungan pada suatu waktu tertentu.

Populasi dan sampel

Populasi penelitian ini adalah masyarakat di pemukiman sekitar lokasi PT. Semen Baturaja yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Tanjung Agung.

Sampel dalam penelitian ini diambil berdasarkan cluster sampling dimana populasi tersebar dalam beberapa kelompok berdasarkan titik pengukuran ambient. Pengambilan sampel dilakukan pada tiap titik pengukuran, yaitu di 8 titik berdasarkan arah mata angin dengan radius 500 m – 1000 m dari cerobong asap PT. Semen Baturaja. Akan tetapi, karena titik ke 8 bukan merupakan daerah pemukiman penduduk, maka jumlah titik pengambilan sampel hanya berjumlah 7 titik.

Teknik Pengumpulan Data

Jenis Data

Data dalam penelitian ini terdiri dari :

  1. Data primer

Data primer berupa data kesehatan dialami oleh masyarakat, data lingkungan fisik rumah dan data hasil pengukuran kualitas udara ambient.

  1. Data Sekunder

Data sekunder berupa data penderita ISPA tahun 2006 yang diperoleh dari Puskesmas Tanjung Agung.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Hasil analisa kualitas udara ambient di pemukiman penduduk sekitar PT. Semen Baturaja dapat disajikan pada tabel dibawah ini :

Periode I

Tabel 1. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

RS. Antonio Ds. Air Gading Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

05:45

17:15

1

Suhu

0C

24,1

26,8

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

79

72

3

SO2

µg/Nm3/1jam

262,0

524,1

4

NO2

µg/Nm3/1jam

10,8

10,8

5

CO

µg/Nm3/1jam

5269,76

5269,76

6

PM10

µg/Nm3/24jam

254

145

Sumber : Data Primer

Tabel 2. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Desa Air Gading (Depan Bengkel Wandi)

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

06:50

16:50

1

Suhu

0C

24,9

28,4

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

82

71

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1261,26

1261,26

6

PM10

µg/Nm3/24jam

158

160

Sumber : Data Primer

Tabel 3. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Halaman Pustu TI. Jawa Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

07:30

17:50

1

Suhu

0C

26,2

26,9

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

84

74

3

SO2

µg/Nm3/1jam

262,0

262,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1261,26

5155,2

6

PM10

µg/Nm3/24jam

54

158

Sumber : Data Primer

Tabel 4. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Pemukiman Desa TI. Jawa Rt 12/13/14

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

08:05

19:00

1

Suhu

0C

27,7

27,7

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

79

79

3

SO2

µg/Nm3/1jam

524,1

524,1

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1261,26

2062,1

6

PM10

µg/Nm3/24jam

220

220

Sumber : Data Primer

Tabel 5. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Belakang Puskesmas Tj. Agung Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

08:40

19:40

1

Suhu

0C

27,8

27,0

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

71

80

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

10,8

5

CO

µg/Nm3/1jam

572,8

572,8

6

PM10

µg/Nm3/24jam

90

222

Sumber : Data Primer

Tabel 6. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Perum KPR Jl. Lintas Sumatera Desa Sukajadi Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

09:47

21:15

1

Suhu

0C

30,9

26,4

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

72

83

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

0,0

1260,2

6

PM10

µg/Nm3/24jam

17

192

Sumber : Data Primer

Tabel 7. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Jl. Lintas Sumatera (Arah Muara Enim) Desa Sukajadi

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

10:25

21:50

1

Suhu

0C

25,5

25,5

2

Kelembaban

%RH

70

81

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1260,2

1260,2

6

PM10

µg/Nm3/24jam

81

94

Sumber : Data Primer

Tabel 8. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Perum PT. SB (Dkt Rel KA) Desa Sukajadi Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

11:00

22:30

1

Suhu

0C

26,2

26,2

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

72

82

3

SO2

µg/Nm3/1jam

262,0

262,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1260,2

5842,6

6

PM10

µg/Nm3/24jam

130

163

Sumber : Data Primer

Periode II (12 – 13 Juli 2007)

Tabel 9. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

RS. Antonio Ds. Air Gading Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

06:25

17:20

1

Suhu

0C

26,9

27,1

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

71

70

3

SO2

µg/Nm3/1jam

100

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

20

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

3544

1260,2

6

PM10

µg/Nm3/24jam

171

169

Sumber : Data Primer

Tabel 10. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Desa Air Gading (Depan Bengkel Wandi)

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

06:50

16:50

1

Suhu

0C

27,2

28,1

2

Kelembaban

%RH

72

73

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1400

572,8

6

PM10

µg/Nm3/24jam

112

144

Sumber : Data Primer

Tabel 11. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Halaman Pustu TI. Jawa Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

07:30

17:50

1

Suhu

0C

27,8

27,0

2

Kelembaban

%RH

70

73

3

SO2

µg/Nm3/1jam

88

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

20

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

145

0,0

6

PM10

µg/Nm3/24jam

53

136

Sumber : Data Primer

Tabel 12. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Pemukiman Desa TI. Jawa Rt 12/13/14

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

09:30

18:30

1

Suhu

0C

27,5

27,5

2

Kelembaban

%RH

75

75

3

SO2

µg/Nm3/1jam

265

265

4

NO2

µg/Nm3/1jam

46

46

5

CO

µg/Nm3/1jam

2143

2143

6

PM10

µg/Nm3/24jam

141

141

Sumber : Data Primer

Tabel 13. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Belakang Puskesmas Tj. Agung Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

08:10

19:10

1

Suhu

0C

27,3

26,9

2

Kelembaban

%RH

71

78

3

SO2

µg/Nm3/1jam

60

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0.0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

602

721

6

PM10

µg/Nm3/24jam

62

136

Sumber : Data Primer

Tabel 14. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Perum KPR Jl. Lintas Sumatera Desa Sukajadi Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

08:50

20:50

1

Suhu

0C

27,6

26,8

2

Kelembaban

%RH

72

81

3

SO2

µg/Nm3/1jam

42

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

13

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

320

213

6

PM10

µg/Nm3/24jam

34

132

Sumber : Data Primer

Tabel 15. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Jl. Lintas Sumatera (Arah Muara Enim) Desa Sukajadi

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

10:10

21:30

1

Suhu

0C

25,8

25,8

2

Kelembaban

%RH

80

80

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1654

1654

6

PM10

µg/Nm3/24jam

56

56

Sumber : Data Primer

Tabel 16. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Perum PT. SB (Dkt Rel KA) Desa Sukajadi Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

10:50

22:10

1

Suhu

0C

25,6

25,6

2

Kelembaban

%RH

79

79

3

SO2

µg/Nm3/1jam

145

145

4

NO2

µg/Nm3/1jam

45

45

5

CO

µg/Nm3/1jam

2103

2103

6

PM10

µg/Nm3/24jam

102

102

Sumber : Data Primer

Periode III (11 – 13 Agustus 2007)

Tabel 17. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

RS. Antonio Ds. Air Gading Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

07:50

18:00

1

Suhu

0C

26,9

27,4

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

71

73

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

186

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

43

5

CO

µg/Nm3/1jam

1265

6498

6

PM10

µg/Nm3/24jam

221

187

Sumber : Data Primer

Tabel 18. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Desa Air Gading (Depan Bengkel Wandi)

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

06:50

16:50

1

Suhu

0C

27,2

27,7

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

72

72

3

SO2

µg/Nm3/1jam

250

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

12,5

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

6200

1354

6

PM10

µg/Nm3/24jam

152

159

Sumber : Data Primer

Tabel 19. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Halaman Pustu TI. Jawa Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

08:40

18:50

1

Suhu

0C

28

27,3

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

69

72

3

SO2

µg/Nm3/1jam

200

174

4

NO2

µg/Nm3/1jam

50

43

5

CO

µg/Nm3/1jam

1520

2540

6

PM10

µg/Nm3/24jam

57

176

Sumber : Data Primer

Tabel 20. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Pemukiman Desa TI. Jawa Rt 12/13/14

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

09:30

20:30

1

Suhu

0C

27,9

27,9

PM10>NAB

2

Kelembaban

%RH

73

73

3

SO2

µg/Nm3/1jam

422

422

4

NO2

µg/Nm3/1jam

36

36

5

CO

µg/Nm3/1jam

1420

1420

6

PM10

µg/Nm3/24jam

167

167

Sumber : Data Primer

Tabel 21. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Belakang Puskesmas Tj. Agung Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

07:00

16:20

1

Suhu

0C

27,3

27,6

2

Kelembaban

%RH

71

71

3

SO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

526

568

6

PM10

µg/Nm3/24jam

104

136

Sumber : Data Primer

Tabel 22. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Perum KPR Jl. Lintas Sumatera Desa Sukajadi Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

08:00

17:10

1

Suhu

0C

27,6

29,2

2

Kelembaban

%RH

72

71

3

SO2

µg/Nm3/1jam

10

0,0

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1200

246

6

PM10

µg/Nm3/24jam

26

132

Sumber : Data Primer

Tabel 23. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Jl. Lintas Sumatera (Arah Muara Enim) Desa Sukajadi

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

09:00

17:50

1

Suhu

0C

27,4

26,8

2

Kelembaban

%RH

70

70

3

SO2

µg/Nm3/1jam

55

26

4

NO2

µg/Nm3/1jam

0,0

0,0

5

CO

µg/Nm3/1jam

1840

998

6

PM10

µg/Nm3/24jam

59

56

Sumber : Data Primer

Tabel 24. Hasil Analisa Kualitas Udara Ambient

Perum PT. SB (Dkt Rel KA) Desa Sukajadi Baturaja OKU

No.

Parameter

Satuan

Waktu Pengambilan

Ket

09:50

19:10

1

Suhu

0C

27,9

28,5

2

Kelembaban

%RH

71

70

3

SO2

µg/Nm3/1jam

185

249

4

NO2

µg/Nm3/1jam

43

14

5

CO

µg/Nm3/1jam

1520

1360

6

PM10

µg/Nm3/24jam

97

102

Sumber : Data Primer

Pembahasan

Berdasarkan analisa hasil pengukuran kualitas udara ambient di pemukiman penduduk sekitar PT. Semen Baturaja diketahui bahwa kadar PM10 dalam udara ambient ada yang melebihi nilai ambang batas, sedangkan untuk parameter yang lainnya masih memenuhi persyaratan baku mutu lingkungan di daerah industri.

Dari hasil analisis pengukuran PM10 diketahui bahwa ada sebanyak 24 dari 43 titik (57%) pengukuran yang kadar PM10 nya sesuai persyaratan baku mutu lingkungan yang respondennya memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Sedangkan 19 titik dari pengukuran PM10 nya tidak sesuai persyaratan baku mutu lingkungan (43%) yang memiliki gejala gangguan saluran pernafasan.

PM10 termasuk polutan di udara yang membahayakan bagi kesehatan manusia. Partikel dengan ukuran kurang dari 10 mikron dapat mempengaruhi kesehatan manusia sebab dapat masuk dan terakumulasi di dalam saluran pernafasan. Menurut EPA (Environmental Protection Agency), PM10 cukup kecil untuk dapat masuk atau terhisap dan terakumulasi dalam pernafasan. Dalam 1 dekade terakhir, penelitian kesehatan mengindikasikan adanya masalah kesehatan.

Mengkorelasikan antara pencemar udara dan dampaknya terhadap kesehatan tidaklah mudah karena jumlah dan keanekaragaman zat pencemar, kesulitan dalam mendeteksi zat pencemar yang membahayakan pada konsentrasi rendah, interaksi sinergistik antara zat – zat pencemar, kesulitan dalam mengisolasi faktor – faktor tunggal bilamana masyarakat telah terpajan zat/senyawa kimia selama bertahun – tahun dan penyebab jamak serta panjangnya masa inkubasi dari penyakit – penyakit (Kusnoputranto, 2006). Selain itu, lamanya tinggal di tempat hunian yang berpotensi tinggi mengalami pencemaran udara turut mempengaruhi timbulnya gangguan saluran pernafasan pada masyarakat. Lama tinggal orang dewasa mungkin akan lebih dapat menggambarkan pajanan polusi udara yang diterima dibandingkan dengan bayi dab balita.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat tersebut adalah kondisi lingkungan fisik rumah penduduk yaitu sebagai berikut :

  1. a. Kepadatan hunian

Tabel 25. Distribusi Kepadatan Hunian

No.

Kepadatan Hunian

Jumlah

Persentase (%)

1.

Tidak padat

78

78

2.

Padat

22

22

Total

100

100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 25. diatas bahwa distribusi kepadatan hunian rumah responden yaitu 78 rumah (78 %) balita responden dikategorikan tidak padat dan 22 rumah (22%) balita responden dikategorikan padat.

Hubungan antara kepadatan hunian dan gangguan saluran pernafasan pada masyarakat yang kita ambil berdasarkan kuesioner dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 26. Distribusi Responden Menurut Gangguan Saluran Pernafasan dan Kepadatan Hunian

Kepadatan Hunian

Gangguan Saluran Pernafasan

Total

Odds Ratio CI

X2H

Tidak Ada

Ada

n

%

n

%

N

%

Tidak padat 44 56,4 34 43,6 78 100

2,8

1,1-7,6

4,15

Padat 7 31,8 15 68,2 22 100
Total 51 51 49 49 100 100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa terdapat hubungan antara kepadatan hunian dengan gangguan saluran pernafasan karena nilai X2H > X2C. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai Odds Ratio (OR) = 2,8 (95% CI 1,1 – 7,6), artinya responden yang rumahnya dikategorikan padat mempunyai peluang 2,8 kali lebih besar untuk menderita gangguan saluran pernafasan dibandingkan dengan responden yang rumahnya tidak padat. Hasil ini sejalan dengan penelitian Hatta (2001) yang menunjukkan hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian pneumonia pada bayi dan balita di Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Menurut Kepmenkes R.I. No. 829 Tahun 1999, luas ruangan tidur minimal 8 m2 dan tidak dianjurkan lebih dari 2 orang. Ruangan yang sempit dan tidak sesuai dengan jumlah penghuninya akan mempunyai dampak kurangnya oksigen dalam ruangan sehingga daya tahan tubuh penghuninya menurun, kemudian cepat timbulnya penyakit saluran pernafasan seperti ISPA. Ruangan yang sempit akan membuat nafas sesak dan mudah tertular penyakit oleh anggota keluarga yang lain. Hasil penelitian Poerno dalam Navianti (2002) menunjukkan hubungan yang tinggi antara jumlah koloni bakteri dengan kepadatan penghuni per m2, sehingga memudahkan penularan penyakit terutama penyakit saluran pernafasan.

  1. b. Ventilasi

Tabel 27. Distribusi Ventilasi

No.

Ventilasi

Jumlah

Persentase (%)

1.

Baik

78

78

2.

Tidak baik

22

22

Total

100

100

Sumber : Data Primer

Hubungan antara ventilasi dengan gangguan saluran pernafasan pada masyarakat yang diambil berdasarkan kuesioner dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 28. Distribusi Responden Menurut Gangguan Saluran Pernafasan dan Ventilasi

Ventilasi

Gangguan Saluran Pernafasan

Total

X2H

Tidak Ada

Ada

n

%

n

%

N

%

Baik 40 51,3 38 48,7 78 100

0,0113

Tidak baik 11 50 11 50 22 100
Total

51

51

49

49

100

100

Sumber : Data Primer

Hasil analisis diketahui bahwa ada sebanyak 38 dari 78 (48,7 %) responden dengan ventilasi rumah yang baik memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Sedangkan dari 22 responden dengan ventilasi rumah tidak baik (50%) yang memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara ventilasi dengan gangguan saluran pernafasan pada balita karena nilai  X2H <X2C.

  1. c. Bahan bakar

Tabel 29. Distribusi Bahan Bakar Rumah Tangga

No.

Bahan Bakar RT

Jumlah

Persentase (%)

1.

Bukan kayu bakar

94

94

2.

Kayu bakar

6

6

Total

100

100

Sumber : Data Primer

Tabel 30. Distribusi Responden Menurut Gangguan Saluran Pernafasan dan Bahan Bakar Rumah Tangga

Bahan Bakar Rumah Tangga

Gangguan Saluran Pernafasan

Total

P

Tidak Ada

Ada

n

%

n

%

N

%

Bukan kayu bakar 49 52,1 45 47,9 94 100

0,162

Kayu bakar 2 33,3 4 66,7 6 100
Total

51

51

49

49

100

100

Sumber : Data Primer

Hasil analisis diketahui bahwa ada sebanyak 45 dari 94 (47,9%) responden yang di rumahnya menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar rumah tangga memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Sedangkan dari 6 responden yang di rumahnya menggunakan kayu bakar (66,7%) yang memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara bahan bakar rumah tangga dengan gangguan saluran pernafasan pada balita karena nilai P > a.

  1. d. Anti nyamuk

Tabel 31. Distribusi Anti Nyamuk

No.

Anti Nyamuk

Jumlah

Persentase (%)

1.

Bukan Anti Nyamuk Bakar

85

85

2.

Anti Nyamuk Bakar

15

15

Total

100

100

Sumber : Data Primer

Tabel 32. Distribusi Responden Menurut Gangguan Saluran Pernafasan dan Anti Nyamuk

Anti Nyamuk

Gangguan Saluran Pernafasan

Total

X2H

Tidak Ada

Ada

n

%

n

%

N

%

Bukan Anti Nyamuk Bakar

46

54,1

39

45,9

85

100

2,204

Anti Nyamuk Bakar

5

33,3

10

66,7

15

100

Total

51

51

49

49

100

100

Sumber : Data Primer

Hasil analisis diketahui bahwa ada sebanyak 39 dari 85 (45,9%) responden yang di rumahnya tidak menggunakan anti nyamuk bakar memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Sedangkan dari 15 responden yang di rumahnya menggunakan anti nyamuk (66,7%) yang memiliki gejala gangguan saluran pernafasan. Berdasarkan uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara anti nyamuk dengan gangguan saluran pernafasan pada balita karena nilai X2H < X2C. Hasil ini sejalan dengan penelitian Handajani dalam Navianti (2002) yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan secara statistik antara pengguna obat nyamuk bakar dalam rumah dengan kejadian ISPA.

Penutup

Kesimpulan

  1. Distribusi kadar PM10 dalam udara ambient terdiri dari 43 titik (57%) pengukuran kadar PM10 nya sesuai dengan persyaratan baku mutu lingkungan dan 19 titik (43%) kadar PM10nya melebihi persyaratan baku mutu lingkungan.
  2. Distribusi lingkungan fisik rumah terdiri dari :
    1. Menurut kepadatan hunian rumah responden terdiri dari 78 rumah (78%) tidak padat dan hanya 22 rumah (22%) padat.
    2. Menurut ventilasi rumah responden terdiri dari 78 rumah (78%) memiliki ventilasi yang baik dan hanya 22 rumah (22%) ventilasinya tidak baik.
    3. Menurut bahan bakar rumah tangga rumah yang menggunakan bahan bakar bukan kayu bakar sebanyak 94 rumah (94%) dan hanya 6 rumah (6%) yang menggunakan kayu bakar.
    4. Menurut anti nyamuk rumah responden yang menggunakan anti nyamuk bukan anti nyamuk bakar sebanyak 85 rumah (85%) dan yang menggunakan anti nyamuk sebanyak 15 rumah (15%)
  3. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar PM10 dalam udara ambient dengan gangguan saluran pernafasan pada penduduk di sekitar PT. Semen Baturaja OKU.
  4. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lingkungan fisik rumah (ventilasi, bahan bakar rumah tangga dan anti nyamuk) dengan gangguan saluran pernafasan pada masyarakat, terkecuali kepadatan hunian yang mempunyai hubungan bermakna dengan gangguan saluran pernafasan.

Saran

1)       Dilihat dari aspek lingkungan, Dinas Kesehatan dapat bekerja sama dengan PT. Semen Baturaja dalam memperbaiki green barrier di sekitar PT. Semen Baturaja agar lebih dapat meminimalisir efek negatif ke lingkungan.

2)       Perlunya peningkatan penemuan penderita ISPA secara dini melalui pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman serta kesadaran masyarakat tentang gejala dan tanda ISPA dan berbagai akibat buruknya melalui penyuluhan dan pelatihan kepada ibu balita dan kader posyandu.

3)       Dapat dilakukan penelitian selanjutnya mengenai hubungan kadar PM10 dalam rumah atau indikator – indikator polusi udara dalam rumah lainnya dengan kejadian pneumonia (lebih spesifik dari ISPA).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: